Selasa, 28 April 2026

YA AMPUUUN..! Riset UI: MBG Terbuang, Mayoritas Siswa SD di Jakarta Tak Habiskan

JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi pemenuhan nutrisi anak sekolah justru menghadapi tantangan besar di lapangan.

Riset terbaru dari Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) mengungkap mayoritas siswa sekolah dasar (SD) di DKI Jakarta tidak menghabiskan jatah makanan mereka.

Temuan ini memicu kekhawatiran serius mengenai potensi pemborosan makanan atau food waste yang dihasilkan dari program berskala nasional tersebut. Hanya 5 siswa per kelas yang menghabiskan MBG

Penelitian yang dipimpin oleh dosen Antropologi FISIP UI Dian Sulistiawati dilakukan di lima SD yang tersebar di Jakarta Timur, Barat, Utara, Selatan, dan Pusat. Richard Lee Resmi Ditahan di Polda Metro Jaya

Melalui metode observasi langsung dengan metode wawancara dan observasi langsung terhadap siswa, guru, pengelola sekolah, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta Badan Gizi Nasional (BGN) pada Juni hingga September 2025, tim peneliti mendapati temuan mengejutkan.

Dari satu kelas yang terdiri dari 32–34 siswa, tim peneliti mengamati hanya sebagian kecil siswa yang mengonsumsi makanannya hingga tuntas.

“Bayangkan, di satu kelas itu hanya 4–5 siswa yang omprengnya benar-benar habis dan makanannya memang dimakan oleh siswa,” ungkap Dian mengutip laman Fisip UI, Jumat (6/3/2026).

Ironisnya, sebagian besar siswa lainnya hanya menyantap sedikit bagian dari menu yang disediakan, atau bahkan tidak menghabiskannya sama sekali.

Di beberapa sekolah, siswa diperbolehkan membawa pulang sisa makanan karena tidak semua SPPG melarang hal tersebut. Dian menekankan bahwa kondisi ini harus menjadi alarm bagi penyelenggara program, termasuk SPPG dan BGN.

MBG dirancang untuk memastikan asupan nutrisi anak terpenuhi, namun fakta di lapangan menunjukkan makanan yang disediakan belum sepenuhnya dikonsumsi penerima manfaat.

“Sungguh sangat ironis jika program yang bertujuan mengatasi persoalan makanan dan nutrisi, dengan biaya besar, justru berpotensi menyebabkan food waste,” ujarnya.

Mengapa Siswa Tidak Menghabiskan MBG?

Kepada Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (7/3) dilaporkan, riset ini membedah bahwa persoalan MBG bukan sekadar masalah logistik atau teknis penyediaan makanan, melainkan berkaitan erat dengan aspek sosial dan budaya.

Dalam konteks pelaksanaan, banyak menu yang dianggap asing oleh anak-anak, sehingga menurunkan minat konsumsi dan memicu sisa makanan.

Selain itu, kebiasaan makan anak merupakan hasil bentukan lingkungan dan budaya yang tidak bisa berubah secara instan hanya dengan pemberian makanan fisik.

“Diperlukan proses pembelajaran, edukasi rasa, jenis, dan makna makanan, serta pendekatan yang lebih kontekstual dan berkelanjutan,” jelas Dian.

Sebagai wujud kehadiran negara dalam mendukung pertumbuhan fisik dan non-fisik anak, keberhasilan MBG tidak boleh hanya diukur dari tersedianya makanan di atas meja siswa.

Sebagai langkah perbaikan, tim peneliti FISIP UI menyarankan agar program MBG disertai proses pembelajaran dan transmisi pengetahuan tentang makanan dan nutrisi oleh para ahli.

Selain itu, SPPG dan guru perlu memastikan makanan benar-benar dikonsumsi untuk mencegah terjadinya pemborosan. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan makanan, melainkan juga oleh penerimaan budaya dan pola konsumsi siswa di sekolah. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles