Sabtu, 9 Mei 2026

ZELENSKY NGOMPOL NIH..! Ukraina Akui Tak Berkutik Hadapi Rudal Hipersonik Kinzhal Rusia

JAKARTA – Rudal hipersonik Kinzhal, senjata paling berharga milik Rusia, menyerang wilayah Ukraina pada Kamis (9/3/2023). Serangan tersebut telah menewaskan sekitar 9 warga sipil dan melumpuhkan listrik di wilayah tersebut.

Melansir Reuters, serangan massal ini disebut sebagai gelombang serangan pertama Rusia sejak negara tersebut terakhir kali meluncurkan serangan pada pertengahan Februari lalu.

Serangan ini dilaporkan membentang dari Zhytomyr, Vynnytsia, dan Rivne yang berada di wilayah barat Ukraina hingga ke Dnipro dan Poltava yang ada di Ukraina Tengah.

Kyiv menilai bahwa rudal yang baru saja ditembakkan itu merupakan salah satu rudal jelajah hipersonik Kinzhal, senjata paling berharga milik Rusia.

Pemerintahan Zelensky menyebut bahwa serangan itu telah memutus aliran listrik di berbagai tempat termasuk ke pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia, yang merupakan pembangkit tenaga nuklir terbesar di Eropa.

Hal ini menyebabkan pembangkit tersebut terpaksa beroperasi dengan bantuan tenaga diesel darurat untum menimalkan kehancuran.

Serangan Balasan

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia menyebut serangan massal tersebut sebagai serangan balasan atas serangan lintas-perbatasan yang dilakukan Ukraina pekan lalu. Serangan tersebut diklaim telah mencapai seluruh target yang dituju oleh pemerintah Rusia, seperti menghancurkan pangkalan drone, menganggu jalur kereta api, serta merusak fasilitas yang digunakan untuk memperbaiki senjata militer Ukraina.

Selain itu, serangan yang diluncurkan pada Kamis (9/3/2023), juga menjadi salah satu upaya Rusia untuk mengurangi kemampuan berperang Ukraina. Meski rudal Kinzhal tersedia dalam jumlah yang sedikit, yakni hanya beberapa lusin saja, namun Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut bahwa rudal tersebut menjadi senjata yang tidak dapat dibalaskan oleh Ukraina.

Selain serangan rudal yang ditembakkan pada kemarin malam, prajurit Ukraina juga tengah berperang dan mempertahankan kekuasannya di Bakhmut, sebuah kota kecil yang telah menanggung beban serangan musim dingin Rusia.

Bahkmut disebut sebagai batu loncatan bagi Rusia untuk bisa mengamankan wilayah Donbas yang menjadi tujuan utama perang.

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Kepala tentara bayaran Wagner, Yevgeny Prigozhin yang memimpin pertempuran di Bakhmut menyebut bahwa pasukannya telah berhasil menguasai seluruh kota di sebelah Timur.

Menurutnya, Rusia juga telah menguasai seperlima wilayah Ukraina sejak pertama operasi militer khusus dilakukan pada 24 Februari 2022. Kondisi ini membuat beberapa pihak memperkirakan bahwa Ukraina tampaknya akan mundur dari Bakhmut, tetapi para komandan sekarang mengatakan bahwa mereka berhasil menimbulkan kerusakan yang cukup pada pasukan penyerang Rusia agar mereka bisa bertahan dan terus berperang.

Ukraina Akui Tak Berkutik

Sementara itu Juru Bicara Komando Angkatan Udara Ukraina Yury Ignat mengatakan bahwa pertahanan udara Ukraina tidak mampu menembak jatuh rudal hipersonik Kinzhal Rusia, pada Kamis (9/3/2023).

Dia menyatakan bahwa Rusia telah mengikuti jalur penerbangan balistik. Informasi ini dibagikan dalam siaran langsung di saluran televisi Ukraina Rada.

“Sistem pertahanan udara kami mampu menembak jatuh rudal jelajah. Sayangnya, kami berurusan dengan rudal Kinzhal dan Kh-22 dan kami tidak dapat melawan rudal ini sejauh ini karena mereka mengikuti jalur penerbangan balistik dan kami tidak memiliki kemampuan untuk melawan mereka,” katanya.

Sementara itu, komando militer Ukraina mengharapkan kedatangan sistem pertahanan udara Patriot Amerika Serikat (AS), tetapi ini juga tidak akan cukup membantu.

Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan bahwa pasukan Rusia telah melakukan serangan balasan besar-besaran terhadap fasilitas infrastruktur Ukraina pada Kamis (9/3/2023). Serangan itu dilakukan sebagai balasan atas teror Kyiv di Wilayah Bryansk, seperti dilansir dari TASS, Jumat (10/3/2023).

Serangan itu dilakukan dengan senjata presisi, termasuk rudal hipersonik Kinzhal, terhadap infrastruktur militer utama Ukraina, perusahaan pertahanan dan fasilitas energi terkait.

Sebelumnya, Ukraina juga melaporkan terjadinya ledakan di berbagai wilayah dan kerusakan infrastruktur penting, termasuk tiga pembangkit listrik tenaga panas.

Kinzhal adalah sistem udara canggih Rusia dengan rudal aero-balistik hipersonik. Pesawat pencegat MiG-31K dan MiG-31I Rusia telah dipilih sebagai pembawa rudal hipersonik Kinzhal yang memiliki kemampuan manuver tinggi dan dirancang untuk melibatkan target darat dan laut.

Rudal hipersonik Kinzhal dapat berakselerasi hingga sepuluh kali kecepatan suara dan menyerang target pada jarak lebih dari 2.000 km.

Rudal itu mampu bermanuver di sepanjang jalur penerbangan dan menembus pertahanan rudal udara dan antibalistik. Rudal itu dapat dilengkapi dengan hulu ledak konvensional dan nuklir seberat 500 kg.

Sistem rudal hipersonik lintas udara Kinzhal telah siaga tempur di Angkatan Bersenjata Rusia sejak Desember 2017. Rudal hipersonik Kinzhal mulai digunakan dalam operasi militer khusus di Ukraina pada 18 Maret 2022. (Enrico N. Abdielli)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles