Kamis, 16 April 2026

Hmmm..! JNIB: Penanganan Terorisme Wajib Pendekatan Perang

Polisi korban penikaman teroris, Jumat (30/6) malam di rawat di RS Pertamina, Jakarta (Ist)

JAKARTA Kejadian pembunuhan terhadap aparat kemanan negara, seperti pembunan Polisi di Medan, Sumtara Utara, minggu silam, kejadian Penikaman dua anggota Brimob di di Masjid Faletehan, Jakarta Selatan, hanya sekitar beberapa meter dari Markas Besar Kepolisian Negara Republik  Indonesia Jumat, (1/7) memperkuat dugaan bahwa terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusian, merupakan kejahatan terhadap negara, dan ancaman terhadap kedaulatan negara.

Jaringan Nasional Indonesia Baru (JNIB)—salah satu Relawan Pendukung Jokowi dalam Pilpres 2014—meminta Pemerintah segera menumpas terorisme dan organisasi yang berafliasi dengan teroris di tanah air—sampai keakar-akarnya.

Dalam pendekatan penumpasan ini, pemerintah melalui Polri perlu mengutamakan kedaulatan negara dan mendahulukan perdamaian—dan dapat mengesampingkan prosedur hukum dan hukum.

Nachung Tajudin, Ketua Umum JNIB, menyampaikan kepada pemerintah, dalam ini Polri yang diberi wewenang menjaga ketertiban warga negara sudah saatnya wajib medahulukan perdamaian dan kedaulatan negara.

Ancaman terorisme di Tanah Air sudah mencapai tahap yang memprihatinkan semua warga negara. Kegiatan terorisme sudah mengancam keutuhan negara dan kebhinekaan di Tanah Air.

Menurut Nachung Tajudin, pembunuhan dan kekerasan dilakukan para teroris, jika tidak ditumpas dari sekarang, akan berlanjut terus menurus, karena pola serupa sudah menjadi metode para teroris dalam melakukan aksinya, dan  akan diulangi di masa yang akan datang, melakukan pembunah terhadap aparat kemanan negara dan kekerasan.

“Jika pemerintah masih menggunakan pendekatan pemberatasan terorisme dengan model sekarang, saya anggap gagal karena kejadian terorisme masih terjadi dimana-mana dan muncul setiap tahun,” kata mantan aktivis 98 ini.

Ia menambahkan, pemeritah tidak menyelesaikan masalah terorisme ini sekarang, maka pemerintah sama saja menyimpan dan meletakkan konflik—yang pasti konflik ini muncul jadi bentuk kekerasan di masa-masa yang akan datang dalam bentuk yang lebih masih dan meluas.

Oleh karena itu, kata Nachung, sekarang saatnya untuk menumpas dengan pendekatan yang baru—dengan mengutamakan perdamaian dan keutuhan NKRI.

Menurut Harli Muin Kepala Devisi Advokasi JNIB, para teroris itu melakukan kekerasan pembunuhan dengan direncanakan, terorganisi dalam wadah organisasi, menggunakan senjata api, pisau dan kadang seragam.

Oleh karena itu, mereka perlu diklasfikasi sebagai combatant, dan didekati dengan pedekatan perang. Para teroris dianggap sebagai musuh yang bertujuan mengacam kedaulatan NKRI dan merusak perdamian yang utuh di negeri ini.

Oleh karena itu, karena dianggap perang,  menurut Harli Muin, TNI sudah saatnya menjadi tulang punggung utama dala pemberatasan terorisme, karena terorisme merupakan ancaman terhadap NKRI.

Nachung Tajudin juga menyampaikan apa yang dilakukan BNPT saat ini gagal total, organisasi yang diberi wewenang melakukan pembasmian teroris ini, sama sekali taka ada gunanya. Masalahnya mereka melihat pemberatasan terorisme bukan tujuan, melainkan menempatkan pembrantasan terorisme sebagai proyek. Artinya, mereka lebih mengutamakan proyek ketimbang tujuan melenyapkan terorisme.

“JNIB berharap, Pemerintah segera mengambil tindakan menumpas terorisme. Sebagai warga negara, kita butuh rasa aman, yang merupakan kewajiban utama negara untuk menyediakan rasa aman terhadap warga negara, jika tak mau dianggap sebagai negara yang Failed State, Pemerintah segera mengabil langkap cepat,” tegas Nachung

BMI Kecam Keras

Sementara itu, sayap Partai PDI Perjuangan, Banteng Muda Indonesia (BMI) mengecam keras keras tindakan penyerangan anggota Brimob Polri di Masjid Falatehan Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

“Kami mengecam keras tindakan penyerangan tersebut, perbuatan ini sangat melecehkan umat muslim,” tegas Wasekjen BMI, Mixil Mina Munir kepada awak media Jumat (30/06/17).

Ia menambahkan, penyerangan terhadap dua anggota Polri yang dilakukan terduga teroris itu adalah perbuatan yang sangat biadab. Terlebih lagi, pelaku menyerang anggota polri di dalam tempat ibadah (mesjid) usai dua anggota polri itu melaksanakan sholat isya berjamaah.

Tidak hanya itu, lanjut Mixil, dirinya meyakini bahwa aksi penyerangan/teror kepada dua anggota kepolisian ini tidak bergerak sendiri. Pasalnya, penyerangan secara langsung yang dilakukan kelompok teroris terhadap anggota Polri bukan baru kali ini saja terjadi.

“Beberapa waktu lalu kita dikagetkan dengan serangan yang sama di Mapolda Sumatera Utara. Hari ini mereka kembali beraksi, ironisnya mereka sudah berani menyerang anggota polri yang jaraknya tak jauh dari Mabes Polri. Ini bukti bahwa mereka (jaringan teroris) saat ini berkeliaran di tengah-tengah masyarakat,” paparnya.

Mantan Aktivis 98 yang juga aktif di Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor itu pun mengimbau kepada masyarakat untuk kembali menjalankan tradisi yang kini mulai terkikis, yaitu bergotong royong menjaga lingkungan bersama-sama. Menurutnya, gerakan radikal yang dilakukan oleh kelompok atau jaringan teroris itu hanya bisa dikalahkan dengan cara gotong royong.

“Gerakan kelompok radikal teroris ini sudah tidak bisa dibiarkan. Semua harus bergotong royong melawan gerakan teroris ini. Masyarakat harus berperan aktif menjaga dan mengawasi lingkungan sekitar. Kalau ada orang tak dikenal, yang mencurigakan masuk ke wilayahnya jangan segan-segan melaporkan kepada aparat kepolisian. Masyarakat, polisi, TNI, semua harus gotong royong bersatu melawan kelompok teroris. Karena teroris sengaja ingin menciptakan Indonesia sebagai negara yang tidak aman,” tegasnya.

Sebelumnya, telah terjadi penyerangan kepada dua anggota Brimob satuan III di masjid sebelah lapangan Bhayangkara Mabes Polri. 

Kejadian tersebut terjadi pukul 19.40 saat anggota melaksanakan sholat isya di masjid sebelah lapangan Bhayangkara Mabes Polri tersebut. Pelaku menikam anggota Brimob yang posisinya persis di sebelahnya dengan menggunakan pisau sangkur merk cobra. 

Setelah itu, pelaku mengancam semua jamaah yang sedang shalat dengan mengacungkan sangkur sambil meneriakkan thogut.  

Lalu pelaku melarikan diri ke arah terminal blok M, sambil mengancam dan menantang kelompok anggota Brimob yang bertugas jaga. 

Oleh anggota diberikan tembakan peringatan, namun pelaku berbalik arah menantang dengan meneriakkan “Allahuakbar” sambil mengacungkan pisau. Lalu anggota brimob melumpuhkan pelaku ditempat. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles