Minggu, 26 April 2026

In Memoriam: Agus Lenon dan Putrinya Latonia Lantang Santoso

Ucapan belasungkawa pada Agus Lenon. (Ist)

Agus ‘Lenon’ Edi Santoso meninggalkan kenangan lucu dan menggugah,– termasuk dikalangan wartawan. Satrio Arismunandar, aktivis pers mahasiswa dan serikat buruh mengenangnya. Mantan jurnalis di harian Pelita, Kompas, Majalah D&R, Media Indonesia, Aktual.com dan Trans TV ini menuliskannya buat pembaca Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Satrio Arismunandar

Saya pertama kali kenal aktivis prodemokrasi Agus Edy Santoso, yang lebih populer dengan nama panggilan Agus Lennon, pada 1980-an. Tak ingat persis bagaimana awalnya, tapi aktivitas kami biasanya bersinggungan di acara diskusi. Saya waktu itu aktif di pers mahasiswa, media profesional, dan kelompok studi mahasiswa.

Nah, Agus Lennon sering muncul di acara diskusi di mana dia suka mengajukan gagasan-gagasan yang “keras” untuk ukuran zaman itu, yakni zaman pemerintahan otoriter Soeharto. Yang saya ingat adalah Agus Lennon memang suka “usil” dan pernah membikin “rusak” acara diskusi yang saya ikuti.

Waktu itu saya adalah anggota kelompok mahasiswa peminat pengkajian hubungan internasional, ISA of Indonesia, yang kemudian berganti nama menjadi ISAFIS (Indonesian Student Association for International Studies). Perintis awal organisasi non-kampus ini antara lain Faisal Motik, Imam Prasodjo, dan lain-lain, yang kebetulan adalah eks aktivis HMI.

Nah, ketika kami rekan-rekan ISAFIS sedang asyik berdiskusi masalah internasional dan ASEAN, tiba-tiba datanglah Agus Lennon. Dia datang tanpa diundang, meski tidak salah juga karena diskusi itu bersifat publik. Ketika ada sesi tanya-jawab, Lennon bertanya atau lebih tepat mengritik habis acara diskusi itu.

Saya tak ingat persis ucapannya, tetapi intinya Lennon menggugat bahwa diskusi tentang masalah internasional ini tidak relevan dan tidak kontekstual, suatu pelarian dari masalah yang sebenarnya. Karena permasalahan yang nyata adalah justru di dalam negeri. Seperti: kemiskinan, pelanggaran HAM, pemerintahan yang tidak demokratis, dan semacam itu.

Saya geli sendiri kalau membayangkan, diskusi itu jadi “bubar” gara-gara Lennon. Secara faktual, acara diskusi tetap berlanjut, tetapi suasananya jadi “kehilangan gairah” gara-gara gugatan Agus Lennon tadi. Beberapa teman panitia marah-marah, karena merasa acara diskusi tersebut “dirusak” oleh Lennon.

Selanjutnya saya tidak intensif berhubungan dengan Lennon, karena perbedaan kesibukan. Lennon menjadi aktivis gerakan yang mengurusi isu-isu kerakyatan (terutama di level bawah, seperti kasus tanah), sedangkan saya menggeluti dunia pers profesional sebagai wartawan di harian Pelita, Kompas, Majalah D&R, Media Indonesia, Trans TV dan Aktual.com.

Meski begitu, saya tidak pernah betul-betul lepas dari dunia aktivis. Hal ini karena saya juga menjadi pendiri/pengurus AJI (Aliansi Jurnalis Independen) pasca pembreidelan tiga media –Tempo, DeTik, dan Editor– pada Juni 1994. Serta pengurus DPP SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia), yang dianggap bertentangan dengan pemerintah.

Pertemuan dengan Lennon terjadi lagi karena interaksi kami dengan Denny JA dan teman-teman lama eks Kelompok Studi Proklamasi. Nah, dalam suatu acara halal bilhalal yang diselenggarakan Denny JA pada Mei 2019, saya bertemu dengan Lennon yang membawa serta istri dan anak-anaknya.

Dari pertemuan itu, ternyata istri saya, Yuliandhini (lulusan IKIP Jakarta), sudah kenal juga dengan adiknya Lennon, Iman Santos (Heri) dan Jayadi. Dalam pertemuan itu, saya dan istri dikenalkan dengan salah satu putri Lennon, Latonia Lantang Santoso, yang disekolahkan di pesantren.

Seorang ayah biasanya mewariskan beberapa sifat, karakter atau hasil didikan pada anak-anaknya, walau ciri-ciri ini tidak muncul di semua anaknya dengan tingkat kepekatan yang sama. Dari empat anak Lennon, saya melihat Latonia ini tampaknya berpotensi menjadi pewaris atau penerus Lennon, yakni dalam hal aktivitas literasi.

Lennon senang dengan kegiatan membaca buku, berdiskusi, dan menghasilkan karya tulis. Meskipun tidak terlalu produktif dalam menghasilkan karya eksklusif hasil pemikiran sendiri. Lennon lebih banyak menuliskan pemikiran orang lain yang memang bagus, seperti buku-buku tentang pemikiran Nurcholish Madjid, yang terbit sesudah diedit Lennon.

Nah, dalam acara halal bilhalal di kantor LSI Denny JA, Mei 2019, Lennon memperkenalkan saya pada putrinya Latonia Lantang Santoso. Gadis ini pada usia 14 tahun sudah mengarang novel sendiri, walau dalam format sangat sederhana. Novelnya yang berjudul “Teror Italia” itu diterbitkan oleh Mawar Press, dan tebalnya 20 halaman.

Terasa membesarkan hati, melihat buku fiksi karya Latonia Lantang Santoso. Buku ini memang kecil secara fisik, berukuran sekitar 10 x 15 cm. Tipis pula. Isinya adalah cerita pendek tentang detektif yang melawan kejahatan. Namun, dalam menilai buku ini jangan melihat dari aspek fisiknya, tetapi dari semangat penulisnya.

Dengan cerita a’la komik Detektif Conan, tokoh dalam buku ini adalah Steven Junifers, anak dari Castro, seorang mata-mata Amerika. Kenapa namanya Castro (nama tokoh pemimpin Kuba), tidak dijelaskan di buku ini (saya baru tahu kemudian bahwa Castro adalah juga nama putra Agus Lennon). Ibunda Junifers meninggal ketika Junifers baru berusia 2 tahun, sehingga Junifers tinggal bersama neneknya di London.

Pada usia 16 tahun, Junifers diajak ayahnya ke Amerika untuk memerangi kejahatan. Kasus kejahatannya adalah pencurian patung emas oleh Prof. Alexander, yang ternyata bersembunyi di Italia. Maka Junifers dan Castro mengejar ke Italia. Misi pun berhasil diselesaikan.

Yang patut digarisbawahi sebenarnya bukanlah ceritanya. Maklum saja, karena buku ini bukanlah novel detektif karya penulis profesional. Plotnya sangat sederhana, karena penulisnya adalah Latonia, yang baru akan berusia 14 tahun!

Putri Agus Lennon ini lahir di Jakarta pada 3 Desember 2005, sebagai putri kembar. Latonia pernah belajar di TK Paud Teratai Condet, lalu SDIT Al- Khariaat, Batuampar sampai kelas 3 karena tidak cocok. Akhirnya, ia pindah ke SD Negeri Selabintana Wetan, Sukabumi.

Di tempat yang diselimuti kabut itu, Latonia mengaku, ia melihat keindahan Gunung Gede dan perkebunan teh, dan lalu bermimpi ingin jadi penulis. Perjuangan Latonia untuk menjadi penulis mendapat tantanan, ketika ia bersekolah di sebuah pesantren di Sumenep, Madura.

Seperti ia kisahkan di pengantar buku ini, cerpen yang kemudian dibukukan ini berawal dari keinginan mengisi kekosongan kegiatan sehari-hari di pesantren. Menulis cerpen ini dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, karena dilarang oleh pengasuh ponpes.

Latonia pernah ketahuan, dan naskahnya dirampas. Untuk mengambilnya, ia diberi sanksi menulis Surah Yasin. Itu sebagai hukuman, tetapi Latonia menerima hukuman itu dengan cara positif. “Hukumannya enak, membuat tambah pinter,” tulisnya.

Latonia menulis di sela-sela waktu sehabis solat maghrib dan jam istirahat sekolah. Ia merasa, menulis cerpen itu sulit juga, terutama tentang bagaimana agar jalan ceritanya nyambung dan mudah dipahami pembaca. Latonia belum pernah ke luar negeri, tetapi ia harus membayangkan suasana London, Amerika dan Italia untuk bukunya ini.

Saya mengapresiasi karya ini, karena semangat dan perjuangan keras yang dilakukan Latonia. Latonia tampak mewarisi semangat ayahnya, Agus Lennon. Banyak bibit penulis muda yang redup sebelum berkembang, karena tidak beruntung mendapat lingkungan yang tepat. Yakni, lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan kemajuan bakat menulisnya. Lennon tampaknya bisa memberi dorongan semangat dan lingkungan kondusif pada putrinya.

Latonia mengatakan, karya perdananya ini cuma dicetak sangat terbatas, berkat bantuan pamannya, Om Mansur. Saya berharap, Latonia masih akan terus menulis dan menerbitkan karya-karyanya.

Gadis kecil ini punya bakat, dan bakat itu harus terus diasah agar bisa tumbuh dan berkembang. Demikian demikian, walaupun sobat Agus Lennon sudah menimggal, semangat dan warisannya akan bisa diteruskan oleh anak-anaknya, khususnya Latonia.

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles