JAKARTA- Terlepas dari apa pun jenisnya granat yang melukai 2 prajurit TNI di Monas Selasa (3/12), pengamat militer dan intelejen Connie Rahakundini Bakrie mencurigai granat tersebut didapatkan pelaku dari pasar gelap perdagangan senjata. Hal ini dijelaskan Connie dari Itali kepada Bergelora.com di Jakarta, Rabu (4/12).
Karenanya, Connie berharap agar TNI dan Polri meningkatkan pengawasan dan transaksi alur perdagangan senjata gelap alutsista dan mengamankannya
“Mengapa? Kita kan sudah tahu wilayah perairan Asteng adalah salah satu simpul transaksi perdagangan senjata gelap dunia. Simpul-simpul ini harus segera dapat dikuasai dan ditutup. Karena sekarang tingkat penyerangan pada ibukota sudah semakin mendekati radius 1 objek vital nasional yaitu istana negara ,” ujarnya.
Jika ledakan di Monas tersebut terkait dengan aksi teror, Connie melihat adanya kaitan yang beragam.
“Apakah kemungkinan kaitannya pada konstalasi Aceh, dengan tendensi gerakan tertentu, apakah Papua karena isu masif referendum, apakah juga dari unsur gerakan radikalisme ekstrimisme,” katanya.
Namun, ia tidak tahu keterkaitan pastinya dan menunggu hasil penyidikan TKP dari polisi.
Hal yang paling penting bagi Connie sekarang adalah kewajiban TNI dan Polri untuk meningkatkan segala bentuk pengamanan.
“Menurut saya yang masih sangat lemah adalah jalur-jalur bawah tanah MRT. Harus segera ada pengamanan ekstra ketat dari TNI Polri. Karena kalau sudah bisa meledakkan di Monas, mungkin saja bisa targetnya kemudian jalur-jalur MRT, seperti di negara-negara lain,”ujarnya.
Sebelumnya Connie mengingatkan bahwa ledakan di Monumen Nasional melukai 2 orang prajurit TNI tidak mungkin granat asap. Karena granat asap hanya mengeluarkan asap yang tujuannya bukan melukai tapi hanya menyesakkan nafas dan membuat mata perih.
“Kalau granat asap hanya sesak nafas dan mengeluarkan air mata saja. Kalau analisa saya ini granat ofensif,” papar Connie.
Connie menyebutkan, ada tiga kategori granat. Granat asap termasuk kategori pertama.
“Pertama, yang paling rendah granat asap atau air mata, granat ofensif, kemudian granat ledak,” kata Connie.
Menurut dia, jika granat yang meledak di kawasan Monas merupakan granat asap yang masuk tipe pertama, seharusnya korban tidak mengalami luka seperti itu.
Ia berpendapat, ledakan tersebut berasal dari granat ofensif atau granat tipe dua.
“Kalau tipe pertama harusnya hanya sesak nafas dan mengeluarkan air mata saja. Kalau analisa saya ini granat ofensif, sudah masuk tipe dua,” papar Connie.
Dari peristiwa ini, ia mengingatkan, pentingnya peningkatan bentuk pengamanan baik oleh Polri maupun TNI. Menurut dia, masih ada kawasan yang lemah pengamanan. Apalagi, ledakan ini terjadi di kawasan Monas yang termasuk wilayah Ring 1.
Sebelumnya, Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono mengatakan peristiwa itu terjadi pada pukul 07.20 WIB di area halaman taman Monas di seberang gedung Kementerian Dalam Negeri.
Ia mengatakan, awalnya dua anggota Garnisun ini tengah melaksanakan apel pagi dan berolahraga di kawasan Monas. Kemudian, mereka berkeliling lari pagi di dalam area Taman Monas.
“Setelah itu terdengar ada ledakan dari kawasan tempat mereka berlari,” ujar Gatot di Monas, Jakarta Pusat, Selasa (3/12).
“Hasil temuan tim di lapangan ini adalah granat asap yang meledak,” kata Eddy.
Dalam kesempatan yang sama, Pangdam Jaya Mayjen TNI Eko Margiyono juga mengonfirmasi dua korban terluka merupakan anggota TNI.
“Yang pertama korban atas nama Serka Fajar, tangan kiri terluka parah, sedang memegang granat asap. Kondisi sadar. Dia bahkan masih bisa duduk,” kata Eko.
Korban lain bernama Praka Gunawan mengalami luka ringan di bagian paha.
“[Korban ke-2] bahkan memberi tahu teman-teman lainnya untuk meminta tolong,” tuturnya.
Eko menganggap ledakan granat asap bukan sesuatu yang luar biasa. Ia meminta masyarakat untuk tenang dan tak khawatir.
“Kami sedang dalami mengapa ada granat asap di sana,” kata dia. (Web Warouw)

