JAKARTA – Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengungkapkan, wacana membangun Sekolah Rakyat ditargetkan dapat dieksekusi pada tahun 2025. Menurut Gus Ipul, sapaan akrabnya, Presiden Prabowo Subianto sangat serius untuk mewujudkan program sekolah bagi anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah ini, khususnya yang berada dalam kategori miskin ekstrem.
“Presiden sangat serius soal Sekolah Rakyat. Sangat serius dan beliau meminta kami untuk segera melaporkan apa yang sudah kami kerjakan selama beberapa bulan terakhir ini,” ujar Gus Ipul, di Kantor Kemensos, Jakarta, Senin (3/2/2025).
Menurut dia, konsep program Sekolah Rakyat saat ini telah disusun dan diharapkan dapat segera dieksekusi dalam waktu dekat.
“Kalau bisa, ini dilaksanakan pada tahun ini juga. Ya mudah-mudahan ini bisa segera terwujud karena Presiden sangat serius sekali,” tambahnya.
Gus Ipul menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat nantinya akan berbentuk sekolah berasrama (boarding school). Tujuan utama dari sistem ini adalah memastikan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem mendapatkan pendidikan yang layak serta lingkungan yang kondusif untuk belajar.
“Ya pastilah, sekolah rakyat ini nanti boarding ya. Sekali lagi ini boarding. Boarding khusus untuk mereka yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. Ya mohon maaf kalau pasnya itu kadang-kadang miskin ekstrem gitu lah,” kata Gus Ipul.
Ia juga menekankan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada pendidikan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan keterampilan siswa agar mereka dapat menjadi agen perubahan di lingkungan keluarganya.
“Presiden ingin sekali mereka ini mendapatkan suatu proses pendidikan yang pada akhirnya nanti mereka bisa jadi agen-agen perubahan keluarga,” ujar Gus Ipul.

Bangun Sekolah di Setiap Desa
Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, tidak semua desa memiliki sekolahan sehingga para pelajar yang tinggal di desa terpaksa harus ke kecamatan atau desa lain yang telah memiliki sekolah.

Dibeberapa daerah, masih banyak siswa yang tinggal di desa harus mengarungi sungai dan menyeberangi jembatan untuk mencapai sekolahan.
Jembatan putus, tak bisa menghalangi para siswa bersekelolah. Mereka rela bertaruh nyawa demi menuntut ilmu. Setiap harinya mereka harus pulang-pergi berdesak-desakan menaiki perahu berukuran kecil untuk menyebrangi sungai. Para siswa ini harus mengambil risiko dapat tercebur ke aliran sungai yang sangat dalam, bahkan diterkam buaya demi sampai ke sekolah tepat waktu.

Di daerah lainnya para siswa harus jalan kaki melintasi gunung dan hutan untuk mencapai sekolahnya.
Setiap hari pelajar di Kabupaten Tambrauw Papua Barat harus berjalan kaki ke sekolah karena kurangnya angkutan dalam kota. selain itu kondisi jalan yang longsor dan berbatuan menjadi tantangan bagi mereka untuk tetap berjalan kaki ke sekolah.

Sudah saatnya Presiden Prabowo membangun sekolahan di setiap desa agar pemerataan pendidikan tercapai dengan mudah tanpa resiko menyeberangi sungai gunung dan hutan. (Web Warouw)

