Jumat, 26 Juni 2026

EMANG BISA…? Deklarasi Jakarta Middle Way AI Diluncurkan di Wisma Habibie Ainun

Inisiatif Craig Warren Smith dan Ilham Akbar Habibie menempatkan Indonesia sebagai salah satu penggagas pendekatan AI yang berdaulat, inklusif, dan berpihak pada masyarakat yang belum sepenuhnya terlayani ekonomi digital.

—————-

JAKARTA — Professor Craig Warren Smith PhD, Founder & Chairman Digital Divide Institute, bersama Dr.-Ing. H. Ilham Akbar Habibie, Dipl.Ing., M.B.A., I.P.U. dari Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas), menginisiasi dan mendeklarasikan pendekatan Middle Way AI di Wisma Habibie Ainun, Jakarta, Kamis (25/6)

Deklarasi ini diselenggarakan bertepatan dengan peringatan hari lahir B.J. Habibie, Presiden ke-3 Republik Indonesia, Bapak Teknologi Indonesia, serta tokoh teknologi yang pemikiran dan warisannya terus menjadi inspirasi bagi pembangunan ilmu pengetahuan, demokrasi, dan kedaulatan teknologi nasional.

Middle Way AI diperkenalkan sebagai pendekatan jalan tengah dalam pemanfaatan dan pengembangan Artificial Intelligence. Pendekatan ini menolak dua ekstrem: AI yang terlalu dikendalikan oleh kepentingan pasar global tanpa perlindungan kedaulatan nasional, maupun regulasi yang terlalu kaku sehingga menghambat inovasi. Middle Way AI menempatkan manusia, kesadaran, kedaulatan data, pemerataan akses, dan produktivitas masyarakat sebagai pusat arah pengembangan AI.

Dalam rilis yang diterima Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Deklarasi Jakarta menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis dalam arsitektur transisi AI global. Dengan populasi besar, ekonomi digital yang terus tumbuh, kekuatan UMKM, serta struktur pemerintahan yang menjangkau 514 kabupaten/kota, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk menjadikan AI sebagai alat pemerataan, bukan sumber kesenjangan baru.

Dalam konsep Middle Way AI, pasar terbesar Indonesia bukan hanya berada di pusat-pusat ekonomi formal, tetapi juga pada masyarakat kelas menengah-bawah, pelaku usaha mikro, pekerja informal, komunitas lokal, dan daerah-daerah yang selama ini belum sepenuhnya terjangkau manfaat ekonomi digital.

AI yang dirancang dengan benar dapat membantu memperluas partisipasi ekonomi, meningkatkan produktivitas, memperkuat basis pajak, dan membuka ruang pertumbuhan baru dari bawah.

Deklarasi ini juga menekankan pentingnya kedaulatan data, tata kelola AI yang transparan dan akuntabel, penguatan kapasitas nasional, serta pengembangan kerangka pembiayaan dan kelembagaan agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pembentuk arah dan manfaat AI bagi masyarakatnya sendiri.

Acara deklarasi ini didukung dan dihadiri oleh unsur pemerintah, akademisi, asosiasi, industri, komunitas, serta mitra internasional. Berdasarkan daftar kehadiran rapat, peserta yang hadir mencakup antara lain perwakilan Komdigi, Kemendikti Saintek, BSSN, Bappenas, IIFTIHAR (The International Islamic Forum for Science, Technology and Human Resources Development),–sebuah organisasi internasional cendekiawan Muslim dunia, yang didirikan pada 1 Juni 1996 di Makkah), KORIKA, The Habibie Center, MASTEL, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, IPB, Universitas Esa Unggul, Politeknik Negeri Jakarta, Huawei Indonesia, dan NEC Indonesia.

Deklarasi tersebut menyepakati bahwa pendekatan Middle Way AI akan disempurnakan bersama oleh para pihak yang hadir melalui proses kolaboratif lanjutan. Proses penyempurnaan ini juga melibatkan Professor Soraj Hongladarom dari Chulalongkorn University, seorang akademisi yang dikenal dalam bidang filsafat teknologi, etika informasi, dan etika AI.

Melalui Deklarasi Jakarta, Indonesia diharapkan dapat memainkan peran lebih besar dalam membangun tata kelola AI yang tidak hanya mengejar efisiensi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjamin keadilan, kedaulatan, dan keberpihakan pada masyarakat luas.

Middle Way AI menjadi ajakan bagi pemerintah, akademisi, industri, komunitas, dan mitra internasional untuk menyusun arah AI yang lebih seimbang: inovatif tetapi bertanggung jawab, terbuka tetapi berdaulat, produktif tetapi inklusif, serta maju tanpa meninggalkan masyarakat yang selama ini berada di luar arus utama ekonomi digital.

Middle Way AI

Middle Way AI adalah pendekatan tata kelola dan pengembangan Artificial Intelligence yang menempatkan keseimbangan sebagai prinsip utama. Pendekatan ini menggabungkan kedaulatan data, akses yang adil, penguatan kapasitas nasional, tata kelola demokratis, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya terlayani oleh ekonomi digital.

Digital Divide Institute

Digital Divide Institute adalah lembaga yang berfokus pada strategi penutupan kesenjangan digital, terutama di negara-negara berkembang. Di bawah kepemimpinan Professor Craig Warren Smith, lembaga ini telah lama mendorong kerangka kebijakan teknologi yang berpihak pada masyarakat yang belum terlayani secara digital.

Wantiknas

Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas) merupakan forum strategis nasional yang berperan dalam mendorong sinkronisasi, koordinasi, dan arah kebijakan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia. (Enrico N. Abdielli)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles