Kamis, 25 Juni 2026

GAK USAH PANIK..! InFast Bestari Soroti Anjloknya IHSG: Saham Anjlok Tidak Mencerminkan Ekonomi Riil

JAKARTA- Merespon turunnya IHSG dalam beberapa waktu ini, Ekonom InFast Bestari Gede Sandra menyatakan bahwa penurunan dalam indeks harga saham secara beberapa periode, mingguan, bulanan, sampai tahunan, ini tidak hanya terjadi di bursa Indonesia, tetapi terjadi juga di 11 bursa saham dunia di berbagai negara seperti, Rusia, Hongkong/China, Afrika Selatan, India, Afrika Selatan, Maroko, Sri Lanka, Ceko, Islandia, dan Kuwait.

Menarik, sebagian besar bursa yang turun berada di negara-negara yang tergabung dalam BRICS.

Bursa-bursa saham dunia yang turun secara mingguan, bulanan, dan tahunan (Sumber: Trading Economics)

“Secara mingguan, 5 bursa yang mengalami penurunan terdalam adalah bursa saham Rusia (MOEX) sebesar 9,72%, disusul oleh bursa saham di Afrika Selatan (SA40) yang turun 6,02%, dan bursa saham Indonesia (JCI) yang turun 5,42%, baru ada Hongkong/China (HK50) turun 3,7%, dan Maroko (MASI) turun 1,4%. Secara bulanan, 5 penurunan yang terdalam adalah bursa saham Rusia (MOEX) yang mengalami penurunan terbesar -13,65%, disusul bursa Hongkong yang turun -8,54%, kemudian bursa Islandia (ICEX) yang turun 7,19%, bursa Afrika Selatan (SA40) yang turun 6,02%, dan bursa Indonesia (JCI) yang turun 5,2%. Secara tahunan, 5 penurunan yang terdalam adalah bursa saham Indonesia (JCI) yang turun hingga 31,95%, disusul oleh bursa saham Rusia (MOEX) yang turun 18,91%, bursa saham Hongkong/China (HK50) yang turun 8,66%, bursa saham India (NIFTY50) yang turun 8,07%, dan bursa Islandia (ICEX) yang turun 7,7%.” rinci Gede Sandra dikutip Bergelora.com di Jakarta, Kamis (25/6).

Gede Sandra menyebutkan, bahwa berdasarkan pertumbuhan ekonomi yang riil, atau PDB/GDP, sebagian besar negara-negara yang mengalami penurunan saham di atas justru mencatatkan angka pertumbuhan yang di atas rata-rata dunia 3,2%. Kecuali Rusia yang memang mengalami konstraksi 0,2% dan Afrika Selatan yang tumbuh rendah 1,9%.

Negara-negara yang tumbuh tinggi tersebut adalah India, yang ekonomi riilnya tumbuh menakjubkan di level 7,8% pada quartal 1 2026. Juga Indonesia yang mencatatkan pertumbuhan 5,6% pada periode yang sama, pun China yang tumbuh 5,0%, dan Maroko yang tumbuh 5%.

“Ini menunjukkan sebuah fenomena ekonomi yang disebut sebagai decoupling, artinya berpisah jalan, antara sektor riil dan pasar saham. Atau dengan kata lain, kinerja pasar saham tidak benar-benar mencerminkan situasi di sektor ekonomi masyarakat sehari-hari. Pasar saham bisa saja bertumbuh tinggi, tetapi pertumbuhan ekonomi riil secara global malah minus, ini terjadi pada era Covid-19 ketika harga saham tinggi karena guyuran stimulus bank sentral dalam bentuk quantitative easing digunakan oleh swasta untuk melakukan buyback. Sebaliknya pasar saham bisa saja turun karena sentimen merespon volatilitas geopolitik tapi ekonomi sektor riil tetap tumbuh tinggi.” ungkap Gede.

Gede juga menekankan, perubahan haluan dari pemerintahan Prabowo yang hendak menyelesaikan permasalahan struktural kebocoran penerimaan devisa dalam praktek under-invoicing dengan pembentukan PT. DSI untuk menyelenggarakn bursa dan kewajiban penempatan DHE ini seharusnya memberi harapan bahwa dalam jangka yang lebih panjang pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus meningkat karena naiknya penerimaan negara.

Meskipun dalam jangka pendek masalah geopolitik di Selat Hormuz yang masih belum benar-benar selesai menjadi faktor terberat yang membuat pasar saham gelisah.

Ketika ekonomi riil tampaknya baik-baik saja dan kolaborasi fiskal dan moneter telah terjalin baik, tentu perbaikan-perbaikan struktural ekonomi yang lainnya, seperti perbaikan institusi dan perbaikan tata kelola dari kebijakan-kebijakan unggulan Presiden seperti MBG dan KDMP juga merupakan hal-hal yang sangat mendesak untuk dikerjakan. (Calvin G. Eben-Haezer)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles