Kamis, 25 Juni 2026

Sembilan Naga, Belanja Negara, dan Ketahanan Ekonomi Nasional Di Era Prabowo

Ekspansi internasional yang dilakukan oleh para konglomerat melalui korporasi bisnis mereka dapat meningkatkan integrasi Indonesia dalam jaringan produksi, komoditas serta investasi global. Pergerakan ini harus dimanfaatkan sebagai dasar bagi aspirasi negara untuk menjadi pusat ekonomi di Asia Tenggara, dan membentuk kembali preferensi kebijakan ekonomi dari pemerintah

Oleh: Arief Poyuono *

PEREKONOMIAN Indonesia saat ini menghadapi sebuah paradoks yang menarik. Di satu sisi, berbagai indikator makro ekonomi menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Pertumbuhan ekonomi nasional tetap bertahan di kisaran 5 persen, inflasi terjaga pada level yang moderat, dan stabilitas sektor keuangan masih mampu dipertahankan di tengah gejolak ekonomi global. Namun di sisi lain, masyarakat kelas menengah menghadapi tekanan daya beli akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, tarif energi, serta meningkatnya berbagai beban konsumsi rumah tangga.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional belum sepenuhnya terdistribusi secara merata. Masyarakat kelas menengah yang selama ini menjadi motor utama konsumsi domestik justru mengalami tekanan sehingga sebagian masuk ke dalam kelompok masyarakat rentan. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang memasuki masa awal kepemimpinannya.

Dalam perspektif ekonomi politik, kondisi tersebut tidak dapat hanya dianalisis melalui indikator makro semata. Faktor struktur kepemilikan modal, jaringan investasi domestik, serta kapasitas belanja pemerintah menjadi variabel penting dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Salah satu faktor yang menopang perekonomian Indonesia saat ini adalah peran belanja pemerintah yang cukup agresif. Program-program sosial, pembangunan infrastruktur, penguatan ketahanan pangan, hilirisasi industri, hingga berbagai program perlindungan masyarakat yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo memberikan efek pengganda (multiplier effect) terhadap perekonomian domestik.

Belanja negara pada dasarnya berfungsi sebagai instrumen stabilisasi ketika sektor swasta mengalami perlambatan. Dalam situasi ruang fiskal yang mulai menyempit akibat tekanan penerimaan negara dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan, pemerintah dituntut untuk mengalokasikan anggaran secara lebih selektif dan produktif. Namun demikian, belanja pemerintah tetap menjadi jangkar utama dalam menjaga permintaan domestik.

Di tengah keterbatasan fiskal tersebut, muncul faktor lain yang turut menopang stabilitas ekonomi nasional, yaitu kekuatan kelompok pemilik modal nasional yang selama ini dikenal sebagai kelompok “Sembilan Naga”. Dalam konteks ekonomi politik Indonesia, kelompok ini merupakan representasi dari konglomerasi nasional yang memiliki pengaruh besar pada sektor perbankan, properti, manufaktur, energi, infrastruktur, perdagangan, logistik, perkebunan, hingga industri digital.

Terlepas dari berbagai perdebatan politik yang selama ini menyertai keberadaan kelompok tersebut, realitas ekonomi menunjukkan bahwa investasi yang mereka lakukan memiliki kontribusi signifikan terhadap perputaran ekonomi nasional. Nilai investasi yang mencapai ratusan triliun rupiah telah menciptakan lapangan kerja, menjaga aktivitas industri, memperluas basis pajak, dan mendorong pertumbuhan sektor riil.

Dalam teori ekonomi politik modern, kelompok kapital domestik yang kuat justru menjadi salah satu pilar ketahanan ekonomi nasional. Negara-negara maju seperti Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok juga tumbuh melalui dukungan konglomerasi nasional yang mampu bersinergi dengan kebijakan negara. Hubungan antara negara dan pelaku usaha besar bukan semata-mata hubungan ekonomi, melainkan bagian dari strategi pembangunan nasional.

Pemerintahan Presiden Prabowo menghadapi tantangan global yang tidak ringan. Ketidakpastian geopolitik, perang dagang antarnegara besar, perlambatan ekonomi dunia, serta volatilitas pasar keuangan internasional berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia. Dalam kondisi demikian, keberadaan modal domestik yang kuat menjadi instrumen penting untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Kelompok usaha besar yang selama ini dikenal sebagai Sembilan Naga dapat berfungsi sebagai penyangga investasi nasional ketika arus modal asing mengalami perlambatan. Investasi pada sektor properti, infrastruktur, energi, industri pengolahan, logistik, hingga teknologi digital dapat menjaga roda ekonomi tetap bergerak meskipun tekanan eksternal meningkat.

Di sisi lain, belanja pemerintah yang diarahkan pada program-program strategis Presiden Prabowo seperti ketahanan pangan, makan bergizi gratis, penguatan pertahanan, hilirisasi industri, dan pembangunan pedesaan akan menciptakan permintaan domestik yang besar. Kombinasi antara belanja negara dan investasi swasta domestik tersebut dapat menjadi fondasi baru ketahanan ekonomi Indonesia.

Namun demikian, hubungan antara negara dan kelompok pemilik modal harus tetap berada dalam kerangka tata kelola yang baik (good governance). Negara tidak boleh tunduk kepada kepentingan oligarki ekonomi, tetapi juga tidak dapat mengabaikan peran strategis pelaku usaha besar dalam pembangunan nasional. Yang dibutuhkan adalah kemitraan pembangunan yang berorientasi pada kepentingan nasional.

Dalam perspektif ekonomi politik, keberhasilan pemerintahan Prabowo sangat bergantung pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara tiga kekuatan utama, yaitu negara sebagai regulator, masyarakat sebagai konsumen dan tenaga produktif, serta sektor swasta sebagai pemilik modal dan penggerak investasi.

Indonesia saat ini membutuhkan sinergi nasional yang kuat. Ketika ruang fiskal pemerintah semakin terbatas, maka investasi domestik menjadi sangat penting. Ketika daya beli masyarakat mengalami tekanan, maka program sosial pemerintah menjadi penyangga utama. Dan ketika ketidakpastian global meningkat, maka ketahanan modal nasional menjadi benteng ekonomi bangsa.

Kontribusi Sembilan Naga Dalam Perekonomian Nasional

keberadaan kelompok usaha besar yang selama ini dikenal sebagai Sembilan Naga tidak semata-mata harus dilihat dalam perspektif politik kekuasaan, tetapi juga dalam perspektif ekonomi nasional. Selama investasi mereka produktif, menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, dan mendukung agenda pembangunan pemerintah, maka keberadaan mereka dapat menjadi salah satu pilar ketahanan ekonomi Indonesia.

Peran konglomerat dalam ekonomi Sembilan Naga (kelompok perusahaan multi-industri) memainkan peran krusial dalam perekonomian dengan mendorong pertumbuhan, menciptakan lapangan kerja, dan memfasilitasi diversifikasi. Meskipun menjadi motor penggerak investasi dan penopang pasar modal, walaupun ada tuduhan yang negative akibat dominasi mereka sering kali memicu kekhawatiran terkait persaingan usaha yang tidak sehat yang sulit dibuktikan

Dimana kelompok Sembilan naga (kelompok perusahaan multi-industri) memainkan peran krusial dalam perekonomian dengan mendorong pertumbuhan, menciptakan lapangan kerja, dan memfasilitasi diversifikasi. Meskipun menjadi motor penggerak investasi dan penopang pasar modal, dominasi mereka sering kali memicu kekhawatiran terkait persaingan usaha yang tidak sehat. Peran Positif (Katalisator Pertumbuhan)Penciptaan Lapangan Kerja Skala Besar: Dengan memiliki banyak anak perusahaan di berbagai sektor, konglomerat membuka jutaan lapangan kerja bagi masyarakat

Dan Kehadiran mereka di industri yang berbeda membantu perusahaan meredam guncangan ekonomi yang terjadi saat ini sehingga menjamin stabilitas pertumbuhan dalam jangka panjang.

Dan terbukti bahwa Saham dari perusahaan konglomerasi sering kali menjadi motor utama atau tulang punggung penggerak pasar seperti IHSG serta menjadi lokomotif investasi

Konglomerat atau kelompok bisnis besar telah menjadi salah satu faktor utama dalam pembangunan ekomomi di Indonesia, dan semakin bertransfomasi dalam dua dekade terakhir. Ekspansi dalam sektor investasi, perdagangan dan produksi yang dilakukan telah menembus pasar dunia dan sekaligus mengubah lanskap pertumbuhan ekonomi yang bergerak semakin signifikan.

Dengan mendukung pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga menjadi 20.892 triliun rupiah dan bahwa internasionalisasi kapital dari para konglomerat Indonesia tidak bisa hanya dianggap sebagai strategi perusahaan semata. Ia menilai bahwa ini menjadi landasan baru bagi pertumbuhan dan orientasi ekonomi Indonesia di masa depan.

Perlu ada pemahaman terkait integrasi internasional pengelompokkan perusahaan dalam mengkaji proyeksi ekonomi luar negeri Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Proses ini dapat meningkatkan permintaan ekonomi dari populasi di Asia Tenggara, dan berkaitan dengan tujuan dari para konglomerat di kancah internasional.

Ekspansi internasional yang dilakukan oleh para konglomerat melalui korporasi bisnis mereka dapat meningkatkan integrasi Indonesia dalam jaringan produksi, komoditas serta investasi global. Pergerakan ini harus dimanfaatkan sebagai dasar bagi aspirasi negara untuk menjadi pusat ekonomi di Asia Tenggara, dan membentuk kembali preferensi kebijakan ekonomi dari pemerintah

Langkah kebijakan pemerintah di lingkup regional yang membebaskan dan memperluas arus investasi dan perdagangan, melihat peluang ekspansi dari konglomerat pun diuntungkan oleh proyek integrasi ekonomi seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Ini sekaligus menjadi penegasan bahwa internasionalisasi kapital para konglomerat Indonesia tidak bisa dianggap hanya sebatas strategi perusahaan. Adanya kerja sama ekonomi tersebut telah berkontribusi penting dalam mempermudah proses serta regulasi bagi operasi konglomerat di lingkup global.

Perlu dicatat juga bahwa meskipun lanskap ekonomi di kawasan regional telah menyediakan lingkungan regulasi yang menguntungkan bagi perusahaan untuk berekspansi secara internasional, para konglomerat atau pelaku bisnis Indonesia tetap harus mewaspadai beragam tantangan.

Salah satunya konsekuensi dari kerja sama ekonomi yang akan berdampak pada internasionalisasi kapitalis dari setiap negara, yang dengan berbagai kepentingannya dapat mempersulit proses negosiasi

Indonesia memiliki posisi strategis dalam kerangka tersebut sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Ini berdampak kepada peralihan menuju ekonomi yang digerakkan pasar serta mendorong integrasi kelompok korporasi Indonesia dalam pasar regional, sehingga memperkuat peran Indonesia di masa depan sebagai pusat ekonomi regional.

Di era pemerintahan Presiden Prabowo, sinergi antara belanja negara, kekuatan modal domestik, dan stabilitas politik berpotensi menjadi fondasi penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan fiskal dan ketidakpastian ekonomi global.

——————

*Penulis Arief Poyuono, Pengamat Ekonomi Politik

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles