KULON PROGO- Bukit Menoreh bagai tembok besar membentang Jawa. Tanah karst jadi pijakan ratusan dusun-dusun bagi warga Kulon Progo, Purworejo dan Magelang. Bukit kapur tak beraturan berbaris berkelok jalan desa yang di sisinya curam dan puncaknya runcing. Puncak tertinggi disebut Suroloyo. Kisah mitologi menganggapnya pusat tanah Jawa, kiblat pencering bumi, tempat bertapa Sultan Agung Hanyakrakusuma dan persemayaman legenda Semar.
Saat Perang Jawa di masa penjajahan Belanda, perbukitan Menoreh menjadi area basis pertahanan Pangeran Diponegoro pada 1825–1830. Darah juang Sang ‘Local Hero’ kini mengejawantah berupa kesanggupan mempertahankan hidup jiwa dan raga keluarga petani-petani sekitar. Tekun mencintai alam, memburu sumber-sumber air yang langka, merawat tanaman, berjuang mengembalikan organisme tanah secara alami dan memetik hasil panen musiman di tengah desakan ekonomi harian rumah tangga tani.
Musim berganti musim Menoreh tetap perkasa memberi pangan bagi manusia dan hewan ternak. Musim hujan vegetasi kehijauan bisa tampak dari atas. Bila curah hujan lebat berhari-hari, ancaman bisa datang sewaktu-waktu berupa tebing longsor menimpa rumah warga. Sebaliknya, saat kemarau muka bukit merontang kering dan pohon meranggas. Tanaman perkebunan bahkan mati kehabisan air, seperti cengkih, kakao dan kopi. Menanamnya kembali butuh waktu 4 – 5 tahun. Hasil panen musiman inipun digoncang harga pasar oleh perilaku tengkulak. Tinggal sebagian tanaman keras macam sengon, jati, dan kelapa. Tanaman empon-empon dirawat di lahan sempit.

Alam bukan untuk ditahklukkan. Setiap jengkal tanah digali penuh keringat dan kerja keras. Dari generasi ke generasi laki-laki dan perempuan “lungo ngalas golek pangan”. Bumi Menoreh memberi pengharapan sekaligus tantangan. Bencana longsor dan kekeringan sudah menjadi siklus tahunan yang harus dihadapi bersama dengan segenap perilaku yang menghormati alam sebagai berkah dari Yang Maha Kuasa yang diwariskan dari leluhur.
Ruwatan Menoreh
Oleh karenanya, Kepada Bergelora.com, Hari Subagyo, Ketua Masyarakat Kerja Jokowi (MASKOWI) menjelaskan bahwa pada Kamis, 15 November 2018, tepatnya malam Jumát Kliwon, mulai pukul 19.00 WIB, warga Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, bertempat di Jati Kembar dusun Plengan, menggelar “RUWATAN MENOREH: Menghormati Alam, Menghargai Perbedaan” bersama-sama dengan MASKOWI.
“Sebagai ujub rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas apa yang diperoleh dari hasil bumi Menoreh dan sekaligus mohon tolak bala dan penghormatan atas leluhur,” katanya.
Ketua Dewan Kesehatan Rakyat DKR) Yogyakarta ini menjelaskan, menanamkan kebaikan kepada alam dan sesama manusia sudah menjadi tradisi yang tumbuh pada dunia batin sedulur Menoreh. Nilai-nilai keberagaman dan kerjasama sudah diasah ratusan tahun di Banjaroya.
“Kami masyarakat pemeluk Islam dan Katholik hidup damai berdampingan di mana tradisi seni dan budaya dikembangkan bersama dan diaktualisasikan hingga kini,” katanya.
Perbedaan agama dan pandangan politik menyikapi situasi sosial dilandasi sikap saling menghargai satu terhadap yang lain. Keadaan politik kebangsaan Indonesia yang hingar bingar bikin galau semoga membawa tentram warga Menoreh.
“Ruwatan Menoreh berbobot pengharapan dan permohonan doa serta ritual kenduri makan bersama (istilah bahasa Jawa, “kepungan”) seluruh anggota keluarga desa juga berisi puji syukur atas kehidupan tentram, damai dan sikap saling asuh antarsesama warga apapun perbedaan pilihan. Dari masing-masing rumah setiap keluarga membawa nasi dan sayur lauk pauk keseharian ke lapangan Jati Kembar, saling tukar dinikmati bersama saling mengepung,” katanya.
Di dahului doa oleh umat Muslim dan Katholik sesuai amalan ibadah masing-masing, setiap warga duduk melingkar berdekatan dipimpin pemuka agama setempat. RUWATAN MENOREH menjadi ikrar yang mengukuhkan hubungan batin manusia dan alam dalam menjaga harmonisasi sosial dengan keutamaan iman dan takwa kita pada Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Kuasa.
“Meruwat juga membuang sial. Menghindari dan mengatasi musibah melalui cara mencintai lingkungan alam. Memohon kesehatan, keselamatan dan ketentraman dalam menjalani hidup sehari-hari. Sebagai rasa syukur hari ini, RUWATAN MENOREH diwujudkan pula dengan kegembiraan. Pada acara ini juga akan ditampilkan hiburan campursari dan penampilan akustik dan regae yang dimainkan para kawula muda Desa,” jelas mantan pimpinan Serikat Tani Nasional (STN) ini.
Hari Subagyo juga menjelaskan dalam acara ini juga akan diberikan Piagam Penghargaan kepada Sugiarto, seorang inspirator dan motivator yang menggerakkan pengelola air untuk masyarakat Menoreh yang mayoritas kaum tani. (Anisah)

