JAKARTA – Meski waktu beranjak malam, ruangan di lantai 3, Kantor Yayasan Upaya Indonesia Damai (United in Diversity/UID) itu tetap semarak, pada akhir Oktober lalu. Wajah muda mudi tampak sumringah. Beberapa di antara mereka asyik diskusi diselingi tawa lepas.
SHNet melaporkan kepada Bergelora.com,— malam itu, sebanyak 60 muda-mudi dari seluruh Indonesia baru saja selesai mengikuti acara Youth Action Forum yang difasilitasi UID. Youth Action Forum merupakan sebuah platform bagi para pemimpin muda untuk mewujudkan Indonesia yang lebih bersahabat, selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan yang dicanangkan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
13 orang dari mereka berlatar belakang Pegawai Negeri Sipil (PNS), 15 orang dari kalangan bisnis, dan 32 dari Non Government Organization (NGO). Dalam forum tersebut mereka belajar bersama tentang apa saja yang menjadi problematika bidang ekonomi, lingkungan, dan politik.
Di malam perjumpaan terakhir itu mereka menyuguhkan kesenian dari daerahnya masing-masing. Sebuah drama tentang awal muasal sumpah pemuda juga tak luput disuguhkan untuk mengingat sejarah perjuangan para pemuda dalam usaha melawan penjajah dan merebut kemerdekaan.
Sepulang dari acara itu, Fitri, salah seorang peserta Youth Action Forum menulis pandangannya melalui akun instagramnya. Ia bercerita, pernah menyukai fotografi. Ia selalu menenteng kamera kemana pun ia pergi. Tetapi belakangan, ia menggantungkan kamera itu.
Selasa malam (30/10), di acara Youth Action Forum, ia disodorkan video fotografer Natgeo Dewitt Jones. Dalam video itu, Jones mengatakan, kreatifitas adalah tentang bagaimana berkreasi atas sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Ketakutan hanya akan melahirkan diam.
“Motret lagi juga filosofis bahwa saya mampu melawan ketakutan diri sendiri dan kembali fokus pada nafas, hal terdekat dalam diri, namun diabaikan karena terlalu peduli apa di balik pikiran dan hati orang lain yang sangat amat jauh, tidak tampak, dan belum tentu benar,” ujarnya. Fitri di akhir kalimatnya mengatakan, “terimakasih para mentor @uidindonesia telah membawa saya kembali. (Tutut Herlina)

