Kamis, 25 April 2024

Mantap…! Satgaskes TNI Andalan Hadapi KLB Campak Dan Gizi Buruk Di Asmat

Satgaskes TNI sedang menerima briefing di Asmat, papua (Ist)

ASMAT- Tim Satgaskes TNI Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan gizi buruk Asmat siap untuk diberangkatkan hari ini. Tim dengan komposisi terpadu ini dilakukan pengecekan personel secara nyata, diharapkan dapat terwujudnya kerja sama dan bekerja bersama yang baik sehingga dapat dihandalkan.

Hal tersebut dikatakan Dansatgaskes TNI Brigjen TNI Asep Setia Gunawan pada apel pengecekan dalam rangka pemberangkatan Tim Gabungan Satgaskes TNI, bertempat di lapangan Yos Sudarso, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Minggu (28/1).

Dansatgaskes TNI Brigjen TNI Asep Setia Gunawan memberikan penekanan singkat untuk segera melakukan pencarian pasien dan pengobatan terhadap penderita campak dan gizi buruk. Setiap pendataan harus diikuti dengan pelaporan. “Jangan lupakan faktor keamanan dimanapun berada,” tegasnya.

Usai memberikan pengarahan, Dansatgaskes TNI Brigjen TNI Asep Setia Gunawan dihadapan awak media menjelaskan bahwa tim ini merupakan tim ke dua Tanggap Darurat dalam rangka penanggulangan KLB campak dan gizi buruk, terdiri dari Puskes TNI sebanyak 55 orang, Kemenkes RI 40 orang, SKPD dengan dinas setempat sebanyak 20 orang, Babinsa 93 orang, Polri 10 orang dengan dibantu pengamanan Satgas Pamrahwan sebanyak 1 SSK.

Lebih lanjut menanggapi pertanyaan wartawan tentang tindakan yang dilakukan dan jangka waktu penanganan, Dansatgaskes TNI Brigjen TNI Asep Setia Gunawan menyampaikan tim ini akan melaksanakan tugas dengan target selama 5 hari guna pengidentifikasian dan pelaporan dari kampung yang dituju, selanjutnya dilakukan penanganan berupa pengobatan dan evakuasi menuju RSUD Agats.

“Yang akan dijangkau adalah kampung-kampung dan desa yang belum terjangkau oleh tim yang pertama. Asmat terdiri dari 224 kampung yang belum terjangkau, tinggal 24 kampung yang lainnya sudah terjangkau,” katanya.

Dansatgaskes TNI juga menjelaskan bahwa sasaran utama tim ini mencari pasien yang terkena campak dan dampak gizi buruk. Namun apabila ditemukan hal lain seperti difteri, dysentri, malaria begitu juga penyakit lainnya yang selama ini kita kuatirkan akan didata dan diberikan penanganan medis.

Lebih lanjut menjawab pertanyaan wartawan berkaitan dengan logistik yang ada, Dansatgaskes TNI menyampaikan bahwa bantuan sudah datang dari berbagai pihak terdiri dari Mabes TNI, Mabes Polri, Kemenkes RI dan Kementrian lainnya serta pihak swasta maupun swadaya dalam bentuk obat-obatan, makanan dan pakaian.

“Dari data yang ada, vaksin untuk dua minggu kedepan mencukupi begitu juga dengan makanan. Bantuan dari Mabes TNI sejumlah 13 ton yang sudah tiba kemarin akan segera didistribusikan,” ujarnya.

Seorang ibu dan bayinya setelah dibantu proses melahirkannya oleh Satgaskes TNI (Ist)

Diakhir acara pengecekan personel oleh Dansatgaskes TNI Brigjen TNI Asep Setia Gunawan, dilanjutkan dengan pelepasan secara resmi oleh Bupati Asmat Elisa Kambu, S.Sos.

Tim Kesehatan TNI sebagai pionir dalam penanggulangan wabah campak dan gizi buruk. Untuk itu para dokter dan tim medis TNI harus siap beradaptasi dalam pelaksanaan tugas dihadapkan dengan kondisi alam yang berat dan budaya masyarakat Asmat yang kental dan unik.

Hal tersebut dikatakan Danrem 174/ATW selaku Komandan Satgaskes TNI Brigjen TNI Asep Setia Gunawan kepada Tim Kesehatan TNI dalam rangka persiapan deploy ke pedalaman Asmat, bertempat di posko penanggulangan wabah campak dan gizi buruk, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Minggu (28/1).

Dansatgaskes TNI mengatakan tim dokter dan paramedis TNI mendapatkan tugas mulia dalam misi kemanusiaan untuk membantu sesama anak bangsa Indonesia khususnya warga Asmat yang ditimpa wabah campak dan gizi buruk. “Tim Kesehatan TNI harus melaksanakan tugas dengan berbuat terbaik, berani, tulus dan ikhlas,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut Brigjen TNI Asep Setia Gunawan menyampaikan bahwa keadaan alam Asmat cukup berat dengan medan rawa, sungai dan laut serta merupakan endemik malaria. Ini merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi, begitu juga dengan budaya Asmat yang kental dan unik. “Untuk itu tim dokter dan paramedis TNI harus mampu beradaptasi dan menghargai adat istiadat Distrik setempat,” jelasnya

Sementara itu, mengenai mekanisme pelaksanaan operasi di lapangan dijelas secara rinci oleh Kasiops Kolonel Inf Agus Prasetyo. “Proses deploy tim dokter dan paramedis TNI, proses pencarian pasien dan proses evakuasi. Semua harus dilakukan dengan mengutamakan standar prosedur operasional,” katanya.  (Sam Awom)

 

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru