Minggu, 21 Juli 2024

Mubazir Elastisitas Bela Diri Budiman Sudjatmiko

Oleh: Toga Tambunan

DUNIA memang bukan makin indah harmonis seiring peradaban budaya tehnologi kian semarak silih berlomba canggih. Tenor keistimewaan jaringan digital 4G dalam waktu singkat dihentikan adanya 5G. Seraya sudah ada berita munculnya tehnologi 6G. Percepatan perubahan itu makin meningkat.

Termasuk merangsek ke tehnologi penipuan. Si penipu menggunakan logo persis sama yang resmi mengingatkan secara sopan korban targetnya, agar jangan tertipu memberi OTP ke lain, sambil kirim OTP dengan pesan si korban menjebutkannya.

Ucapan bicara penipu itu santun sopan, justru mengingatkan agar hati-hati jangan sampai tertipu, gunakan tilpon genggam berlogo resmi Bank, maka yang bersangkutan terpeleset jadi korban tertipu. Isi rekeningnya otomatis habis disedot penipu sopan santun itu, menempatkan dana itu tidak dalam rekeningnya tapi ke institusi pembayaran belanja jaringan digital sehingga pihak Bank tidak dapat melacaknya kemana uang itu dikirim. Siasat serta tindak penipu itu sungguh tehnik cerdas lihai.

Di ranah rebutan cawapresnya Anies Baswedan terberita kemarin pengkhianatan yang artinya juga sebagai penipuan, entah benar tidaknya sinyal itu. Berhubung cak Muhaimin Iskandar dari PKB dikukuhkan cawapres untuk Anies Baswedan.

Perihal diatas membawaku teringat dalih Budiman Soedjatmiko (BS) mengikat jodoh dengan Prabowo Subianto (PS), mendeklarasikan Prabu pada 18 Agustus 2023 di Semarang.

Sebelum mendeklarasikan Prabu, BS berkunjung silahturahmi ke rumah PS tanpa memberi tahu ibunya dalam keluarga separtai. Atas langkahnya itu kuanggap apa salahnya pergi bermain layangan atau seakan pacaran yang sewaktu-waktu wajar putus. Manuvernya itu inisiatif mandiri atau apakah arahan seseorang tertentu, siapa yang tahu.

Setelah dipecat PDIP, BS berkomentar menyatakan keinginannya akan mendaftarkan dirinya masuk kembali ke dalam keluarga PDIP dan berharap diterima lagi. Tentunya dia paham berprakarsa kekanak-kanakkan begitu, pasti membangkitkan cemoohan dan ludah khalayak menunju dirinya. Ada apa?

Kenyataan terjadi, BS mendeklarasikan Prabu di Semarang. Aku turut terperanjat.

Upaya membenarkan tindakannya mendeklarasikan Prabu, BS bersandar pada pidato MS pada upacara pengukuhan MS jadi Professor/Guru Besar HC di Universitas Pertahanan (U han) 11 Juni 2023 di Kampus Unhan, Sentul, Bogor.
Yaitu tentang oknum pemimpin stratejis.
Sekaligus bermakna, menurut pendapat BS pandangan MS itu benar.

Dengan menggunakan kriteria digagas Megawati Soekarnopoetri (MS) itu, BS menemukan diantara para politikus RI hanya ada satu oknum atau satu tokoh saja yakni PS memenuhi yang disyaratkan MS.

BS membantu PDIP termasuk MS, menemukan person yang kapasitas dan kapabelitasnya sesuai kriteria gagasan MS. Tindakannya itu mengindikasikan dia unggul menetapkan oknum disyaratkan gagasan MS, lebih dari MS sendiri.

Dengan dalih PS sesuai syarat digagas MS tentang pemimpin stratejis, BS mengikat jodoh dengan PS, mendeklarasikan Prabu. Bukan lagi bermain layangan atau pacaran yang sewaktu-waktu bisa putus.

Apakah BS sudah tahu persis muatan tipe pemimpin stratejis yang tersembunyi di benak MS yang menjadi memilih PS jadi jodohnya? Dapatkah dia menuturkan tipologi pemimpin strategis MS yang diketahuinya itu sama sebangun dengan yang terdapat dalam benak MS?

Sebelumnya BS berkunjung silahturahmi ke rumah PS tanpa memberi tahu ibunya dalam keluarga separtai. Atas langkahnya itu kuanggap apa salahnya pergi bermain layangan atau seakan pacaran.

Dalih BS ini bisa menjelma jadi ular deviasi liar, menyemburkan bisa ke berbagai kemungkinan sasaran.

Mungkin melorotkan MS, jika benar MS telah memberitahu kepada BS bahwa PS, adalah person yang menggenapi syarat digagasnya perkara pemimpin stratejik itu. Seakan mengamini tepat drama duet Mega-Probowo dalam pilpres 2019, meski untuk pilpres 2024 mendatang ini, menetapkan Ganjar Pranowo jadi Capres PDIP.

Jika kemukinan demikian itu benar, maka PDIP dibawah ketua MS memunahkan peristiwa kudatuli dari sejarahnya. Apa yang akan terjadi?

Kemungkinan kedua, adalah BS merelakan dirinya jadi cairan kimiawi peluntur atau pemutihkan dosa PS selaku nomor satu aktor kejahatan terhadap HAM berat 1996/1997 saat ini, 22 aktivis hilang, belum ditemukan, Peristiwa Kebakaran Mal di Klender, Duren Sawit, 15 Mei 1998 tewaskan sekitar 400 orang. (dimuat dlm Instagram/@merekamjakarta, disiarkan Merdeka.com – Senin 15 Mei 2023), Peristiwa Trisakti 12 Mei 1998 dan peristiwa pemerkosaan terhadap beberapa perempuan Indonesia keturunan Tionghoa di Mei 1998.

Berhubung tidak ada gratis minum kopi di kafe, sudak tersebar isu BS terima 200 M – 300 M. Sebagian berkomentar jika isu benar, BS bloon, tidak tuntut 1 T, kepalang tanggung dirinya sudah hancur.

Kemungkinan berikutnya adalah membangkitkan sentimen warga menolak PS jadi presiden, kian keras, dampak sentimen rasa sangat muak terhadap BS yang tersebar luas.

Sekiranya BS yang mengenal dirinya penganut penerus Marhaenisme tulen ajaran Bung Karno dan menginventarisasi pikiran inovasinya kurang direspon MS dan punggawa tinggi PDIP lain, atau berpendapat Marhaenisme ala MS tidak selaras Marhaenisme Bung Karno, semestinya dia tangguh mengkoreksi di dalam PDIP,  bukan memancing dipecat.

Mungkin BS membaca negara Uni Sovyet bersekutu dengan imperialis AS & Eropa di PD II melawan negara Nazi Hitler, lalu mentrapkannya terhadap PS. Kondisi bersekutu Stalin – Roosevelt – Churchill selanjutnya putus dan sia-sia mengecilkan imperialisme apalagi memunahkannya.

Siapa yang akan dipilih Prabowo jadi bacawapres? Belum tentu juga BS.

Elastisitas BS membela diri mengikatkan dirinya jodoh PS yang gegabah itu, dengan berdalih pidato MD tentang pemimpin strateji, suatu langkah mubazir.

Selanjutnya masih perbincangan akademis, apakah tepat pendapat MS tentang pemimpin stratejis itu. Stratejinya itu apa dan mau kemana? Pendeknya patut dikaji. Sedang ayahnya MS, BK mendaulat “penyambung lidah rakyat” untuk dirinya selaku pemimpin bangsa dan NKRI, berpedoman garis-garis besar haluan negara yang diamanatkannya mengimplementasi Pancasila dan UUD 45.

Secara tehnikal penipuan menggunakan instrumen tehnologi super canggih, misalnya jaringan digital mutahir klas G-nya, berubah terus melancar siasat tipuan, yang semata-mata menyentuh manusia posisi lahiriahnya manusia seraya kemuliaan seseorang menjelma dari moral yang substantif terdapat abadi bersuara dalam diri tiap orang, termasuk membenahi jika terlanjur lancung.

Pepatah di era literasi Melayu diingatkan ortu kepada anak-anaknya, salah satu yaitu “sekali lancung ke ujian, seumur hidup tak dipercaya”.

Kelancungan dapat ditebus berkat katarsis inisiatif mandiri, ke koridor benar anutannya semula, dalam hal ini Marhaenisme Bung Karno yang mengedepankan Pancasila.

Bekasi, 5 September 2023

*Penulis Toga Tambunan, pengamat sosial politik

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru