JAKARTA- Dalam Debat Kedua Capres lalu, Capres Nomor urut 01 yang juga Presiden RI, Joko Widodo, mengklaim capain-capaian bidang infrastruktur. Diantaranya capaian tentang pembangunan jalan desa yang diklaim mencapai 191.000 km. Angka capaian ini patut dipertanyakan validitasnya. Hal ini disampaikan Suhendra Ratu Prawiranegara, Pemerhati Kebijakan Infrastruktur Publik kepada Bergelora.com di Jakarta, Rabu (20/2).
“Total jalan di Indonesia sejak awal tahun 1950-an sampai sekarang ini dalam kisaran 530.000 km. Ini data Kementerian PUPR. Ini jumlah keseluruhan mencakup jalan nasional, jalan provinsi dan jalan kabupaten,” ungkap Mantan Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum ini.
Secara teroritis dan empiris data capaian yang disampaikan Presiden Joko Widodo patut dipertanyakan dan cenderung tidak bisa dipertanggung jawabkan. Jalan desa berada dalam wilayah kabupaten, sementara panjang jalan kabupaten dan kota diseluruh Indonesia saat ini dalam kisaran 437.000 km.
“Jadi dengan kata lain hebat sekali dan luar biasa pemerintahan ini jika sudah dapat membangun jalan desa sepanjang 191.000 km selama dalam kurun waktu 3 tahun anggaran 2015-2018,” katanya.
Ia menyampaikan, perlu diketahui juga oleh masyarakat luas, bahwa kondisi jalan yang eksisting di Indonesia saat ini tidak semuanya beraspal. Dari total panjang jalan di Indonesia, 530.000 km, hampir 45% jalan di Indonesia permukaan jalannya masih berupa tanah dan kerikil (sirtu).
Jadi jika diklaim sudah membangun jalan sepanjang 191.000 km, artinya sudah 90 persen seluruh jalan di Indonesia sudah tidak lagi tanah dan kerikil permukaannya? Faktanya tidak demikian. Jadi benar-benar data dan ucapan klaim dari Capres 01, Joko Widodo ini tidak berdasar.
“Joko Widodo ini memang sebagai Capres ya, namun beliau juga kan Presiden RI yang aktif. Jadi kalau dengan mudahnya menyampaikan data yang keliru dalam forum kenegaraan yang dijamin UU seperti proses debat dalam Pilpres, patut disayangkan. Karena kan hal yang disampaikan seorang Presiden tentu memiliki makna dan berfungsi sebagai sumber informasi dan pengetahuan bagi masyarakat,” ujarnya. (Fatimah)

