JAKARTA – China mulai memasuki tahap akhir persiapan pengoperasian proyek Kanal Pinglu sepanjang 134,2 kilometer yang menghubungkan wilayah pedalaman negara itu dengan Asia Tenggara. Otoritas China telah melakukan uji coba pelayaran penuh dari Jumat (7/8/2026) hingga Sabtu (8/8/2026) untuk pertama kalinya di kanal tersebut, setelah tahap utama pembangunan tekniknya rampung pada Juli 2026.
Kanal senilai sekitar 72,7 miliar yuan atau sekitar Rp 191 triliun itu direncanakan diluncurkan pada September dan dirancang untuk dapat dilalui kapal dengan kapasitas hingga 5.000 ton.
Dalam uji coba tersebut, seperti dilansir South China Morning Post, sebuah kapal patroli berlayar menyusuri Kanal Pinglu dari Teluk Tonkin, perairan yang berbagi wilayah dengan China dan Vietnam, hingga mencapai titik paling utara kanal di Sungai Pingtang.
Otoritas memeriksa berbagai kondisi yang berkaitan dengan navigasi dan keselamatan pelayaran, termasuk lebar jalur kanal, tikungan-tikungan sempit, jarak bebas di bawah jembatan, serta titik pertemuan kanal dengan sungai.
Petugas juga memeriksa rambu-rambu navigasi, potensi risiko keselamatan, dan lokasi yang dapat digunakan untuk penanganan keadaan darurat.
Kapal patroli yang digunakan memiliki panjang 46,1 meter, mampu melaju hingga 25,3 knot, dan dilengkapi sistem pelacakan optik untuk mengumpulkan informasi navigasi selama perjalanan.
Hubungkan China dengan Asia Tenggara
Kehadiran kanal ini diharapkan memberikan akses yang lebih cepat bagi sejumlah wilayah di China bagian selatan dan barat daya menuju Asia Tenggara serta jalur pelayaran global.
Kanal tersebut juga disebut sebagai kanal besar pertama yang dibangun China dalam beberapa abad. Liu Kaiming, pendiri Institute of Contemporary Observation yang berbasis di Shenzhen sekaligus analis rantai pasok perdagangan, mengatakan bahwa kanal itu berpotensi membantu produsen memindahkan berbagai komoditas antara China barat daya dan Vietnam dengan biaya logistik yang lebih rendah.
Komoditas yang berpotensi menggunakan jalur tersebut antara lain tekstil, kayu, plastik, elektronik, dan baja.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan manufaktur China juga telah berinvestasi di Vietnam untuk menyasar pasar domestik negara tersebut sekaligus mengirimkan produk jadi ke berbagai wilayah dunia.
Menurut Liu, transportasi darat masih menjadi pilihan tercepat untuk banyak pengiriman domestik di China. Namun, kanal tersebut berpotensi menawarkan alternatif dengan biaya yang lebih efisien untuk perdagangan regional.
Selain menyelesaikan pembangunan fisik dan melakukan uji coba pelayaran, otoritas China kini mempersiapkan infrastruktur digital untuk mendukung pengoperasian Kanal Pinglu.
Menurut Guangxi News, peta navigasi elektronik untuk jalur air tersebut telah tersedia di platform transportasi air digital Guangxi. Peta tersebut mengintegrasikan data jalur air secara real-time, peringatan risiko, serta informasi pengaturan pelayaran. (Web Warouw)

