JAKARTA – Ditemukannya beberapa dokumen dan buku bernuansa ISIS yang dirancang khusus untuk mencuci otak anak-anak agar berpikir dan berperilaku radikal, di rumah pelaku teror Mapolda Sumut rupanya menjadi sorotan media Internasional. Media-media tersebut menyoroti bagaimana ideology radikal yang diusung ISIS telah mempengaruhi ratusan warga negara Indonesia hingga merembet ke anak-anak. Hal ini dilaporkan oleh Arrahmahnews.com dan dimuat ulang oleh Bergelora.com di Jakarta, Selasa (27/6).
Media India, NDTV, dalam laporannya soal temuan buku ISIS untuk anak di Indonesia ini menekankan bagaimana bagaimana para simpatisan ISIS ini telah melakukan berbagai teror di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, dan bahwa ada ratusan simpatisan ISIS yang sebelumnya ikut berperang di Suriah dan Irak telah kembali ke Indonesia dan menjadi bahaya tersendiri.
Media Inggris, Netralnews, dalam laporannya mengenai temuan buku ISIS untuk anak itu menyoroti bagaimana ISIS di Indonesia memiliki agenda tersembunyi yang bertujuan untuk merekrut anak-anak sebagai agen-agen mereka selanjutnya.

Kemudian, The Daily Stars, melaporkan bahwa Kepolisian Indonesia telah menemukan ratusan buku anak bernuansa ISIS yang menargetkan anak-anak di rumah tersangka pelaku teror Mapolda Sumut.
Beberapa media lain seperti The Daily Mail, Press TV, dan media lain, dengan mengutip pernyataan Kepolisian Sumut melaporkan hal senada mengenai Buku ISIS untuk anak yang ditemukan di Indonesia.
Kabid Humas Polda Sumut Kombes Rina Sari Ginting mengatakan, beberapa dokumen dan buku bernuansa ISIS disita dari rumah pelaku. Salah satu buku yang disita dirancang khusus untuk mencuci otak anak-anak agar berpikir dan berperilaku radikal.
“Ada buku-buku yang mencekoki anak-anak sejak dari kecil, buku tulis bagaimana mengajarkan anak-anak berperang melawan orang-orang yang dianggap tidak sepaham,” kata Rina saat dikonfirmasi.
Buku tersebut didesain layaknya buku tulis. Hanya saja terdapat sejumlah kalimat dan gambar yang berkaitan dengan aktivitas kelompok teroris ternama, ISIS.
“Jadi buku tulis ini memang dicetak khusus. Nah, di bagian dalam tempat tulisan buku kosong untuk buku tulis untuk anak-anak banyak kalimat-kalimat yang berkaitan dengan ISIS,” kata dia.
Sejauh ini, polisi telah memeriksa sebanyak 12 saksi. Mereka yang diperiksa antara lain keluarga dan kerabat pelaku penyerangan, serta pencetak buku ISIS.
Polisi juga telah menetapkan satu orang lagi sebagai tersangka bernama Boboi (19). Dia berperan sebagai penggambar peta dan mensurvei lokasi Mapolda Sumut sebelum aksi penyerangan. Dengan begitu, total tersangka menjadi tiga orang, yakni AR, SP, dan Boboi.

Ajaran Sadis
Sebelumnya, pada Januari 2016 lalu kepada Bergelora.com juga dilaporkan, propaganda paham radikalisme dan terorisme disusupkan melalui buku-buku pendidikan untuk murid Sekolah Dasar (SD) dan Taman Kanak-kanak (TK).
“Anak-anak adalah masa depan bangsa yang harus ‘bersih’ dari paham negatif seperti itu,” demikian anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Benny Rhamdani saat menerima laporan temuan buku-buku ajaran radikalisme di Depok, Jawa Barat.
Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta juga mengatakan bahwa dunia pendidikan apalagi anak-anak harus benar-benar bersih dari hal-hal semacam itu.
“Jangan ada toleransi bagi pihak-pihak yang secara sengaja atau tidak melakukan propaganda radikalisme dan terorisme dengan menyusupkannya dalam buku-buku pelajaran. Ini sangat berbahaya karena anak kecil memiliki daya ingat abadi yang terbawa sampai dewasa,” katanya saat mengomentari beredarnya buku anak TK yang dengan jelas mengajarkan radikalisme.
Buku yang merupakan buku pelajaran membaca itu disisipi doktrin Radikalisme dengan beberapa kata yang bahkan cenderung sadis.
Laporan mengenai keberadaan kata-kata dalam beberapa jilid buku itu disampaikan salah seorang ibu di Depok, Jawa Barat, kepada GP Ansor setelah anaknya pulang ke rumah dan berbicara mengenai bom dan membantai orang.
Cetak Ulang 167 Kali

Buku berbau unsur radikalisme itu dikemas dalam bentuk metode belajar membaca praktis berjudul Anak Islam suka membaca. Di dalam buku tersebut terdapat 32 kalimat yang mengarahkan kepada tindakan radikalisme. Buku tersebut dicetak pertama pada 1999 dan sudah dicetak ulang 167 kali hingga 2015.
Penerbit buku Anak Islam suka membaca itu Pustaka Amanah, yang beralamat di Jalan Cakra Nomor 30 Kauman, Solo, Jawa Tengah, dengan penulis Murani Musta’in.
Menurut informasi dari Sekjen GP Ansor Adung Abdurrochman, penulis buku Anak Islam suka membaca itu, adalah istri dari Ayip Syafruddin yang merupakan pimpinan kelompok Laskar Jihad di Solo. Setelah diselidiki, Organisasi sayap pemuda Nahdlatul Ulama itu mengklaim beberapa jilid buku pelajaran siswa Taman Kanak-kanak (TK) berjudul Anak Islam Suka Membaca, mengajarkan radikalisme dan memuat kata-kata ‘jihad’, ‘bantai’, dan ‘bom’.
“Saya tidak bisa bayangkan apabila kata-kata ini diserap, dihayati oleh anak-anak usia TK. Kemudian 15 sampai 20 tahun ke depan, ada memori dalam alam bawah sadar dia tentang kata-kata itu. Membentuk pandangan yang keras, yang radikal, yang mengabsahkan kekerasan, bom, pembantaian terhadap kyai. Itu kan, dalam pandangan kami, sangat tidak boleh diajarkan pada anak-anak,” kata Sekretaris Jenderal GP Ansor, Adung Abdurrahman saat itu.
Dalam beberapa jilid buku Anak Islam Suka Membaca, menurut Adung, terdapat setidaknya 32 kalimat yang bisa dipandang radikal. Misalnya, ‘Selesai Raih Bantai Kyai`, `Sahid di Medan Jihad`, `Gelora Hati ke Saudi`, `Basoka Dibawa Lari`, `Topi Baja Kena Peluru`, `Bid`ah`, `Bom`, hingga `Ada Upaya Feminisasi` (Alex T.)

