Senin, 27 April 2026

P e n y a i r

Neno Warisman. (Ist)

 

Doa yang disyairkan dalam deklamasi Neno Warisman mengklaim ‘Tuhan’ masih ramai dikecam dan ditertawakan masyarakat. Dikecam karena dianggap mengancam Tuhan. Ditertawakan karena ketidakpantasan momentum. Namun penulis Hassan Aoni berusaha menjernihkan persoalan ini kepada pembaca Bergelora.com. (Redaksi)

 

Oleh: Hassan Aoni

PERTUNJUKAN seni sangat hidup di Makkah pada akhir abad ke-6 Masehi. Syair-syair ditulis di pelepah kayu, kain dan kulit unta. Tak ada galeri terbuka seindah dinding Ka’bah – bangunan batu peninggalan Nabi Ibrahim, tempat para penyair menempelkan karyanya, menjadikan majalah dinding terbesar yang pernah ada.

Tak semua orang berani menempelkan puisi di dinding itu. Menjadi penyair dan merasa berhak menempelkan puisi ukurannya keterpandangan. Selain saudagar dan bangsawan Arab, para penyair adalah kaum cendekia yang terpandang di Makkah waktu itu. Bukan penyair tak lazim membaca puisi layaknya pertunjukan deklamasi, karena yang membaca di depan umum mereka sendiri. Penyair yang terpandang menulis syair dengan tinta emas, mendeklamasikan dengan cara memukau diiringi tarian dan bila perlu mabuk alkohol.

Dengan tradisi menulis yang belum berkembang waktu itu, tak satu pun syair ditulis dalam antologi kecuali yang ditempel di dinding itu dan diviralkan pertama kali kepada publik oleh mereka sendiri. Orang memperbincangkan dari mulut ke mulut melalui folklore atau talking of values. Menyebut-nyebut kehebatan syair dan menggunjingnya adalah cara syair beroperasi secara viral di masyakarat, makin meninggikan kedudukan mereka di mata penduduk. Tapi, syair sekaligus teror. Seorang gadis yang menolak lamaran laki-laki bisa dibuli dengan kata-kata yang menusuk melalui syair yang ditempel di dinding itu. Gosip selebritas dalam cek en ricek versi Arab kuno, sumber hoak paling mujarab waktu itu.

Bagaimana masyarakat belajar soal hidup? Syair menjawabnya. Syair menjadi sumber pengetahuan sebagaimana makna “sya’ara/syair” (شعر) yang berarti “a’lima” (mengetahui). Seperti kata “asyu’arahi ibn al-amr” yang mempunyai arti “a’lamahu” (memberitahukan persoalan). Sebagai sumber pengetahuan, syair-syair berisi pujian, kebanggaan, patriotisme, cinta, belasungkawa, kebajikan alam, bahkan cacian yang mencerminkan kompetisi antarsuku dan bani (marga). Satu yang terpenting dalam sejarah kesyairan di semua zaman adalah pencariannya pada nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Tak lepas dari pencarian para penyair di Makkah waktu itu.

Ada lelaki muda yang tak pernah bisa membaca karya para penyair itu, apalagi menulis. Dia anak Abdullah bin Abdul Mutholib dari bani Hasyim bernama Muhammad. Ia seorang yang dalam Bahasa Arab disebut “ummi” atau orang yang tak bisa membaca dan menulis. Ia buta huruf sampai akhir hayatnya. Ia hanya bisa mendengar syair dan pesan-pesan itu di sekitar Ka’bah. Tapi, keelokan budinya melebihi indahnya syair-syair itu. Sampai ia diserahi tugas meletakkan hajar aswad (batu hitam) di dalam Ka’bah pada usia 35 tahun setelah para pemuka berdebat tentang siapa yang paling tepat meletakkan batu itu. Ia dijuluki “al-Amien” atau “yang terpercaya”.

Delapan tahun setelah itu kepercayaan para pemuka kepada pemuda ini menjadi penyesalan seumur hidup. Ia menjadi orang pertama yang mendeklamasikan “syair” di muka umum bukan dari karyanya sendiri. Bukan sekedar syair, tetapi “super syair” atau Firman Tuhan. Ia tak menempelkan di dinding Ka’bah, melainkan di dinding hati masyarakat.

Peluit tanda pertarungan babak pertama mulai berbunyi. “Super syair” melawan syair-syair. Menghasilkan genre baru penulisan antologi. Muncul “ma huwal fil”, antologi puisi ayat-ayat katak, karya penyair Musailamah al-Kadzab, dan “Ayyuhat ath-Thalali al-Bali, antologi puisi pemecah kehebatan, karya penyair Imri’il-Qais. Keduanya diciptakan untuk menandingi “super syair” yang dibacakan Muhammad. Tak ada serangan yang lebih provokatif kecuali setelah Ka’ab bin Zuhair, penyair yang lahir dari nenek buyut dan orang tua penyair, memporakporandakan dinding iman setipis tempe para pengikut Muhammad.

Tapi, itu tak menyurutkan para penyair lain menghentikan kata-katanya dan mencekat lidah mereka terhadap “super syair” yang dibawa Muhammad, dan memilih menjadi pengikut Rasul yang buta huruf ini. Membuat murka para pemuka Quraisy yang berkuasa di Makkah kala itu. Tak ada yang lebih menakutkan mereka, kecuali runtuhnya kekuasaan politik dan keyakinan pada tuhan yang berbeda dengan Tuhan yang dibawa Muhammad.

“Katakan Muhammad, jika engkau mempunyai keinginan, kami akan mengumpulkan untukmu segala kekayaan, sehingga kamu akan menjadi orang yang terkaya di antara kaum Quraisy. Jika kamu ingin menikah, pilihlah sepuluh wanita yang paling kamu sukai dan kami akan menikahkanmu,” seru Uthbah bin Rabiah, seorang ahli sihir, nujum, dan penyair dari golongan kaya, utusan suku Quraisy, seperti dikisahkan Abd bin Humaid dalam kitab musnad-nya merujuk Ibnu Abi Syaibah dari Jabir bin Abdullah ra.

Meskipun pertarungan syair dan “super syair” terus berlangsung, hingga turun ayat yang memperingatkan para penyair sebagai pengembara yang sesat (QS Asy-Syu’araa’, 224-227), tapi tak sedikit para penyair menjadi agitator di medan laga. Abdulah bin Rawahah adalah salah satunya. Ia bahkan menjadi komandan perang dan menggugah tentara melalui syairnya yang terkenal:

“Wahai jiwaku/sekiranya engkau tidak gugur di medan perang, engkau tetap akan mati/inilah merpati kematian/ telah menyambutmu/apa yang kau idam-idamkan telah engkau peroleh/jika engkau ikuti jejak dua panglima sebelumnya/engkau beruntung sebagai panglima sejati/jika engkau mundur pasti sengsara dan rugi.”

Tahukah gaes, orang-orang yang menuduh syair sebagai pemuja buta Muhammad dalam kitab Barzanjain karya Syaikh Ja`far al-Barzanji (wafat 1177 H/1763 M), karena itu dihukumi bid’ah dan harus dibasmi dari tradisi Islam di Indonesia, dahulu berhasil mengobarkan perlawanan dalam perang Salib merebut kota Yerusalem, 2 Oktober 1187 M.

Kini tidak ada lagi peperangan fisik. Syair sudah lama absen sebagai panji perang, bahkan mulai diragukan oleh para penyair sendiri dalam perubahan sosial. Dunia telah merubah fungsi syair ke dalam sistem coding dan enskripsi computer dan aplikasi. Para penyair pun mulai mengubah haluan supaya tidak terus menghitung neraca rugi. Waktunya tutup buku. Syair sudah tidak lagi punya opportunity.

Tapi, ayunan pendulum belum benar berhenti. Di Indonesia menjelang Pemilu Presiden April 2019, syair dikobarkan kembali sebagai panji dalam pertarungan politik. Adalah penyair Neno Warisman yang mendeklamasikan syair sebagai doa yang menghebohkan seluruh negeri, “Jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan menangkan kami. Karena jika Engkau tidak menangkan. Kami khawatir ya Allah. Kami khawatir ya Allah tak ada lagi yang menyembah-Mu…”

Pemilu tentu bukan perang. Tapi, setiap pertarungan politik selalu butuh agitator untuk menggusah musuh dan menyatukan barisan. Doa dan syair tak mungkin bisa menjadi enskripsi dan hub dari relasi “kita” dan “kalian”. Di luar “kita” berarti lawan. Bukan saja musuh politik, tetapi agama. Tetapi, itu menjadi sangat ganjil karena doa agitatif dibacakan di negeri yang secara ideologis bukan negara agama. Ia hanya nilai-nilai. Siapa definisi musuh di dalam negeri Pancasila seharusnya tidak ada, karena batas “kita” dan “kalian” ukurannya penganjur dan pendukung ketidakadilan, bukan apa agamamu.

Lagi pula syair yang dahulu menjadi media sosial paling viral dan penyair sebagai sumber kebenaran, hari ini sudah tidak lagi. Ada media lain di atas syair, dan celakanya semua orang merasa bisa menjadi penyair dan merasa boleh membuli puisi dan penyairnya. Tak ada wasit yang fair. Semua pihak merasa bisa mengambil peluit dan menjadi hakim garis di media sosial. Sebab, kebenaran publik ukurannya common sense.

Tak semua penjelasan ini tepat. Tetapi, kita paham bahwa syair bukan doa sebagaimana penyair bukan ulama. Ia bisa menjadi keduanya bukan pada seseorang, tapi pada komitmen dan pada apa yang diniatkan. Sudah mulai mumet, Son? Kamu kira aku tidak? Hehehe…

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles