Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa Pancasila menjadi sandaran utama bagi bangsa Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Prabowo mengatakan bahwa persaingan geopolitik, perang dagang, hingga gejolak ekonomi menjadi tantangan serius yang dihadapi banyak negara, termasuk Indonesia. Meski demikian, Indonesia disebutnya memiliki Pancasila sebagai modal dasar untuk menjaga persatuan dan menentukan arah pembangunan ke depan.
“Di tengah dunia yang semakin terpecah oleh pertikaian, rivalitas geopolitik, perang dagang, dan ketidakpastian ekonomi, Indonesia memiliki pegangan yang kokoh. Pegangan itu adalah Pancasila,” ujarnya.
Menurutnya, Pancasila sebagai falsafah bangsa lahir dari sejarah, pengalaman, dan cita-cita bangsa Indonesia.
Berkat Pancasila, ratusan suku bangsa yang tersebar di ribuan pulau berhasil dipersatukan dalam satu tujuan dan cita-cita kebangsaan. Persatuan tersebut menjadi fondasi utama bagi Indonesia untuk menghadapi berbagai tantangan global.
Oleh karenanya, Prabowo menekankan bahwa Pancasila tidak boleh dipandang sekadar sebagai warisan sejarah atau simbol formal dalam seremoni kenegaraan. Menurutnya, Pancasila harus menjadi pedoman utama dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, mulai dari bidang politik dan hukum hingga pembangunan sosial, budaya, dan sistem ekonomi nasional.
“Pancasila bukan sekadar dokumen sejarah. Pancasila juga tidak boleh sekadar slogan yang kita ucapkan dalam setiap upacara,” katanya.
Mengingat perannya yang krusial di tengah dinamika global, Prabowo mengatakan bahwa Pancasila juga menjadi fondasi utama transformasi ekonomi nasional saat ini. Menurutnya, transformasi yang dilakukan pemerintah bertujuan agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Oleh karena itu, pemerintah menjalankan berbagai program, seperti ketahanan pangan, hilirisasi sumber daya alam, Makan Bergizi Gratis (MBG), dan penguatan ekonomi perdesaan guna memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi terdistribusi secara merata dan tidak hanya dinikmati oleh segelintir kelompok tertentu.
“Kita sedang dan akan menjalankan terus strategi transformasi bangsa. Strategi kita sejatinya adalah transformasi menjadi haluan yang sejalan dengan Pancasila,” jelasnya.
Prabowo mengungkapkan optimismenya bahwa Indonesia dapat tumbuh menjadi negara yang disegani dunia apabila seluruh elemen bangsa menjalankan Pancasila secara konsisten dan sungguh-sungguh dalam setiap sektor kehidupan.
“Dan saya yakin, ketika kita menjalankan Pancasila secara sungguh sungguh di bidang politik, di bidang hukum, di bidang budaya dan terutama di bidang ekonomi, Indonesia tidak hanya akan menjadi negara dan makmur. Indonesia akan menjadi bangsa yang dihormati oleh bangsa-bangsa lain,” tuturnya.
Menutup amanatnya, Prabowo mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk terus menjaga, mengamalkan, dan menghidupkan nilai-nilai Pancasila demi mewujudkan cita-cita bangsa.
“Mari kita jaga Pancasila. Mari kita amalkan Pancasila. Mari kita wujudkan Indonesia yang adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat,” tutup Prabowo.
Sosialisme Indonesia
Kemiskinan hanya bisa diperangi oleh Sosialisme dengan membangun ekonomi dan industri nasional dan mendistribusikan kesejahteraan secara adil dan merata.
Hal ini sudah dirumuskan oleh Proklamator dan penggali.Pancasila Ir.Soekarno yang menjadi presiden pertama Republik Indonesia dengan menunjuk tahap dan arah perjuangan Indonesia menuju Sosialisme Indonesia.
Sosialisme Indonesia menurut Soekarno adalah ideologi Marxisme yang disesuaikan dengan kultur, sejarah, dan kondisi masyarakat Nusantara, yang kemudian ia formulasikan menjadi Marhaenisme. Konsep ini menentang kapitalisme dan imperialisme, serta bertujuan mewujudkan masyarakat adil dan makmur melalui kepemilikan bersama atas alat produksi vital dan semangat gotong royong.
Pemikiran Soekarno mengenai sosialisme ini memiliki beberapa pilar utama:
- Marhaenisme: Ideologi perjuangan yang berakar dari penderitaan kaum miskin Indonesia (petani dan buruh kecil), yang memiliki alat produksinya sendiri namun tetap hidup dalam kemelaratan akibat sistem kolonial. [1, 2, 3]
- Sosio-Nasionalisme & Sosio-Demokrasi: Dalam pandangan Soekarno, nasionalisme dan demokrasi tidak bisa dipisahkan dari keadilan sosial. Kemerdekaan politik harus diwujudkan bersamaan dengan kesejahteraan ekonomi. [1, 2, 3]
- Anti-Kapitalisme & Anti-Imperialisme: Ia meyakini bahwa penindasan terhadap rakyat kecil disebabkan oleh penguasaan modal asing dan kolonialisme, sehingga sistem ekonomi harus dikuasai atau diawasi oleh negara untuk kepentingan rakyat banyak.
Pada masa Demokrasi Terpimpin, pandangan ini dilembagakan menjadi konsepsi yang dikenal sebagai Manipol-USDEK (Manifesto Politik – Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia). [1] . (Web Warouw)