Berbagai inovasi dilakukan di dunia kesehatan untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan paling efektif. Inkubator adalah salah satu alat kesehatan yang tidak mudah didapat bagi pasien miskin, walaupun sudah ber BPJS Kesehatan. Harganya yang selangit membuat, rumah sakit sulit untuk menggratiskan, walau sudah dijamin BPJS Kesehatan. Sebuah inovasi baru atas alat ini diharap bisa menekan kematian bayi. Dahlan Iskan menuliskannya kepada www.disway.id dan dikutip www.bergelora.com. (Redaksi)
Oleh : Dahlan Iskan
INILAH profesor yang ideal : badannya langsing, tidak pernah masuk rumah sakit, tidak pernah minum obat, dekat dengan mahasiswa, egaliter, aktif di penelitian, menciptakan sesuatu, dan semua hal yang ideal-ideal.
Di kartu namanya tidak dicantumkan gelar apa pun. Hanya tertulis : Raldi Artono Koestoer.
Gelar akademisnya entah disimpan di mana : Profesor, Doktor, M.Eng, Insinyur.
Waktu saya masuk kedalam ruangannya, Prof Raldi lagi asyik di depan komputer. Kemudian setelah Dr Ir Mohammad Aditya memberitahukan kedatangan saya (Wakil Direktur Pusat Riset Universitas Indonesia ini baru berusia 40 tahun, alumni Mesin FTUI dan Jerman).
Prof Raldi terjungkit saat melihat saya datang. ”Wah, dapat rezeki apa ya saya didatangi pak Dahlan,” ujarnya sambil tersenyum lebar.
Saya merasa bersalah.
Baru sekali ini bertemu Prof Raldi.
Saya akan terus menulis namanya ‘Prof Raldi’. Biar pun Prof Raldi minta agar saya jangan memanggilnya dengan ‘Prof’ begitu.
Saya dirangkulnya. Saya lirik kakinya, pakai sandal jepit.
Di ruang sebelahnya, di gedung Fakultas Teknik Universitas Indonesia ini, seorang mahasiswa sedang memainkan laptop. Saya lihat lewat sekat kaca di ruangan itu.
Di depan mahasiswa itu tergolek sesosok bayi, didalam sebuah inkubator. Agak aneh : bayi itu bule, seperti bayi pasangan suami-istri Prancis.
Ternyata boneka.
Saya pun diajak masuk ke ruang sebelah tersebut. Mahasiswa tadi tidak terusik. Ternyata dia lagi bikin soft ware. Untuk digitalisasi inkubator tersebut.
Itulah inkubator hasil desain Prof Raldi, yang lahir akibat banyaknya kejadian2 : meninggalnya bayi prematur dari keluarga miskin.
Kekhusus-an dari inkubator UI ini : hanya butuh daya listrik 50 watt. Cocok untuk rumah orang miskin di Indonesia. Bandingkan dengan inkubator yang impor : 400 watt.
Aneh, kata profesor 64 tahun ini, di negara tropis koq ada inkubator dengan power sampai 400 watt.
Kalau itu di barat, bisa dimengerti, karena disana suhu udara bisa sangat dingin.
Tapi dasar mental importir, yang tidak logis pun di-impor.
Kelebihan lain inkubator UI : berat hanya 13 kg, bisa ditenteng dari desa ke desa dan dibuat sistem knock-down pula.
Tidak menimbulkan suara sama sekali, dan tidak ada dipasangi kipas di dalamnya.
Dan… harganya hanya Rp 3,5 juta. Bukan Rp 40 juta atau Rp 50 juta yang inkubator impor itu.
Sebenarnya, kakaknya lah yang berhasil menggugah dan mengetuk sanubarinya. Sang kakak yang dokter menantang Prof Raldi untuk mengatasi kematian bayi-bayi di keluarga miskin, yang lahir prematur.
Prof Raldi pun mempelajari prinsip-prinsip dasar inkubator : penghangat, merata dan cukup udara. (Lihat instagram saya : @dahlaniskan19).
Begitu simple, pikirnya.
Kenapa begitu mahal, pikirnya.
Koq boros listrik pula, pikirnya.
Berpikir.
Ciri intelektual memang berpikir.
Dan intelektual egaliter berpikir lebih keras : karena harus disertai misi.
Misi utama, yang dia tetapkan : “Hanya untuk menolong orang miskin”.
Di kartu namanya tertulis : “Socio-Technopreneur”, Peminjaman inkubator gratis untuk Nusantara.
Saya bayangkan, betapa larisnya inkubator UI ini kalau dijual & dipasarkan untuk umum.
Tapi Prof Raldi sudah teguh : Hanya melayani pembeli khusus, yakni pembeli yang mau jadi Relawan UI : meminjamkan inkubator itu untuk orang miskin, termasuk bersedia untuk mengantarkan ke rumah bayi, dan mengambilnya kembali setelah selesai digunakan.
Tidak boleh si orang miskin sendiri yang mengambilnya atau mengembalikan nya, karena hal itu akan menimbulkan biaya bagi keluarga miskin tersebut, bisa-bisa bayinya keburu meninggal dunia, karena tidak punya uang untuk mengambil inkubator nya.
Kini sudah ada 70 relawan seperti itu di 70 kota di Indonesia.
Relawan di Jember misalnya, mengantar inkubatornya sampai ke Banyuwangi.
Permintaan inkubator itu bisa langsung kepada relawan, atau lewat UI, ada nomor telepon yang bisa di SMS atau di WA, ada tercantum di kartu nama Prof Raldi.
Dari mana tahu nya kalau yang kirim SMS itu orang miskin atau bukan miskin?
”Gampang, kita kirimkan saja sejumlah pertanyaan,” ujar Prof Raldi.
Lulusan Jurusan Mesin FTUI dan dari Prancis itu.
Penjelasan Prof Raldi berikutnya, yang bernada guyon, membuat saya tertawa ngakak :
”Biasanya kalau jawaban SMS itu kacau, pasti dia miskin,” ujarnya.
Ada juga rumah sakit yang ingin membeli, lalu dilayani.
Tanpa diteliti apakah rumah sakit itu kaya atau miskin, tapi Prof Raldi cukup melihat nama rumah sakit itu : Rumah Sakit Tanpa Kasir (RSTK).
“Tahu sendiri kan, apa artinya?” ujar Prof. Raldi. Lokasi RSTK nya di Tangerang Selatan.
Atau seperti rumah sakit di Bandung ini, namanya : RSBC, singkatan dari Rumah Sakit Bersalin Cuma-cuma.
Masih ada beberapa lagi alat ciptaan Prof Raldi, tetapi acara mahasiswa Teknik Mesin ini keburu segera dimulai : MME Summit. Prof Raldi sudah ditunggu oleh
Dekan FT UI yang juga egaliter itu, Prof Dr Ir Hendri DS Budiono yg meski mengaku belum profesor saya memanggil beliau begitu. Krn yang belum ‘kan hanya administratifnya saja, tapi “kelas dan kualitasnya” ‘kan sudah.
Saat itu kami pun belum shalat dzuhur. Prof Raldi lalu mengajak saya ke mushola teknik, disebelah Fakultas Teknik.
Sayapun kumandangkan iqamat dan Prof Raldi yang jadi imam nya.
Penuh sekali mushola itu.
Doa ribuan orang miskin memberkahi.

