JAYAPURA – Gubernur Papua Lukas Enembe menegaskan bahwa orang Papua bukan bangsa monyet. “Kami bukan bangsa monyet. Kami manusia Papua yang punya harga diri dan martabat, sama dengan bangsa, suku lainnya yang ada di tanah air dan dunia,” tegasnya kepada wartawan malam ini Minggu (18/8).
Pernyataan gubernur ini disampaikannya menyusul adanya aksi dari sekelompok ormas yang berbau rasis dengan melakukan intimidasi di asrama mahasiswa Papua yang berada di Malang dan Surabaya, Jawa Timur. Selain ini juga aksi ini mulai merembes ke Semarang, Jawa Tengah.
Bahkan dari beberapa tayangan video yang beredar ramai di media social tampak juga terlihat aparat keamanan yang berseragam loreng melakukan tindakan yang merusak pagar asrama mahasiswa di Surabaya. Dalam tayangan itu juga terlihat aparat kepolisian.
“Kita harap Indonesia harus merubah tabiat, karakternya harus berubah. Jangan kita seperti budaya – budaya lampau. Tindakan rasial yang dilakukan di Surabaya itu sangat menyakitkan,” kata Gubernur Lukas lagi.
Mensikapi hal ini selanjutnya Pemerintah Papua akan segera membentuk tim, yang nantinya akan ke Surabaya, Malang di Jawa Timur kemudian ke Semarang, Jawa Tengah. Karena kejadiannya berada di dua tempat ini dengan melibatkan Pemerintah Provinsi Papua, Kodam XVII Cenderawasih, Polda Papua, Majelis Rakyat Papua, DPR Papua dan juga bersama wartawan.
“Apakah akan dipulangkan (mahasiswa-red). Nanti kita akan lihat situasinya,”ujarnya.
Dalam konferensi pers yang berlangsung di Gedung Negara Dok V Atas Jayapura itu Gubernur Papua didampingi sejumlah pejabat diantaranya Sekretaris Daerah Papua Hery Dosinaen, Asisten Bidang Pemerintahan Sekda Papua Doren Wakerkwa, Asisten Bidang Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Papua Muhammad Musaad, Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah Ridwan Rumasukun, Inspektur Anggiat Situmorang, Karo Hukum Setda Papua Derek Hegemur, Karo Humas dan Protokoler Setda Papua, Israil Tommy Ilolu
Fakta Bentrokan
Kepada Bergelora.com dilaporkan, seperti yang dilansir Bogopapua.com dari Kompas.com menulis, Sejumlah organisasi masyarakat (ormas) terlibat bentrok dengan mahasiswa penghuni asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (16/8).
Aksi tersebut dipicu oleh informasi yang menyebutkan bahwa oknum mahasiswa diduga telah merusak bendera merah putih dan membuang ke selokan. Polisi terpaksa menembakan gas air mata dan menjebol pintu pagar asrama dan 43 orang diamankan petugas untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Sejumlah kelompok ormas mendatangi asrama mahasiswa asal Papua karena diduga sengaja mematahkan bendera Indonesia dan membuangnya ke selokan. Muhammad, salah satu perwakilan massa, mengatakan, di grup-grup WhatsApp banyak beredar foto oknum mahasiswa Papua diduga mematahkan tiang bendera merah putih.
“Di satu grup (WhatsApp) bendera merah putih dipatah-patahkan dan dibuang di selokan. Saya lihat (foto) itu di grup Aliansi Pecinta NKRI,” kata Muhammad.
Menurutnya, saat massa tiba di asrama, bendera merah putih sudah terpasang kembali di depan halaman.
Dorlince membantah penghuni asrama merusak bendera merah putih yang terpasang di depan asrama.
“Sebenarnya kalau pengerusakan bendera itu tidak. Karena tadi pagi sampai tadi siang, (bendera merah putih) itu masih terpasang,” kata Dorlince dihubungi melalui telepon, Jumat (16/8).
Menurut Dorlince, kesalahpahaman itu berawal pada siang harinya. Beberapa mahasiswa Papua, termasuk dirinya, keluar asrama untuk membeli makanan. Namun, saat kembali ke asrama, tiang beserta bendera Indonesia sudah tidak ada di asrama tersebut.
“Setelah kembali, memang benderanya tidak ada. Tapi opini yang digiring di luar sana itu, kami (dituduh) merusak bendera dan sejenisnya. Sementara kami sendiri tidak tahu,” ujar dia.
Dorlince mengatakan, pada pukul 15.20 WIB saat asrama dipadati ormas, aparat keamanan diduga merusak pagar asrama dan mengeluarkan kata-kata rasisme.
“Tentara masuk depan asrama disusul lagi Satpol PP lalu merusak semua pagar. Mereka maki kami dengan kata-kata rasis,” kata Dorlince.
Akibatnya, kata dia, sejumlah kelompok ormas yang memadati asrama turut bersikap reaksioner dengan melemparkan batu ke dalam asrama.
“Kami terkurung di aula. Ormas, tentara, dan Satpol PP masih di luar pagar, belum masuk,” ujar dia.
Sebanyak 43 mahasiswa Papua dibawa ke Mapolrestabes Surabaya setelah polisi menembakkan gas air mata dan menjebol pintu pagar Asrama Mahasiswa Papua, Sabtu (17/8) sore.
Puluhan mahasiswa Papua tersebut diangkut paksa dan dimasukkan ke dalam truk oleh aparat kepolisian dari asrama mereka di Jalan Kalasan, Surabaya, Jawa Timur. Wakapolrestabes Surabaya AKBP Leonardus Simarmata mengatakan, mahasiswa Papua tersebut dibawa untuk kepentingan pemeriksaan.
“Saat ini (mereka), kami ambil keterangan di Polrestabes Surabaya, seluruhnya ada 43 (mahasiswa Papua yang ditangkap),” kata Leo, di Asrama Mahasiswa Papua, Sabtu. (Odeodata H Julia)

