JAKARTA- Menurut Undang-Undang Minerba No. 4/2009, hasil produk tambang tidak boleh lagi diekspor dalam bentuk bahan baku berupa bijih tambang atau bahan setengah jadi seperti konsentrat. Sektor tambang harus diarahkan untuk bisa menjadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru dengan mendorong hilirisasi. Hal ini ditegaskan oleh, Dr Kurtubi, anggota DPRRI Komisi VII Dapil NTB dan Ketua Kaukus Nuklir Parlemen kepada Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (17/8).
“Di Komisi VII DPRRI saya minta pemerintah untuk tidak hanya mendorong membangun smelter, tapi juga perlu secara terintegrasi direncanakan untuk membangun industri hilir termasuk rencana pemenuhan kebutuhan listriknya yang bisa menopang terjadinya Industrialisasi,” katanya.
Industrialisasi berbasis tambang seperti ini menurutnya sangat mungkin untuk terbangun di daerah-daerah penghasil tambang, termasuk di NTB. Tambang tembaga, nikel, bauksit, Emas, Perak, Uranium, Thorium, Batubara, Bijih Besi, dan lainnya sangat berpotensi untuk menjadi basis industrialisasi berbasis tambang.
Dalam Rapat Bersama antara DPR-RI dan DPD-RI 16 Agustus 2019 untuk mendengar Pidato Presiden RI, Ketua DPDRI mengintrodusir perlunya Indonesia mulai membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
“PLTN sangat tepat untuk mendukung industrialisasi di tanah air karena listriknya stabil 24 jam, bersih, teknologinya sudah sangat aman dan dengan biaya yg sangat kompetitif,” tegasnya.
Pastinya,– menurut Kurtubi,– industrialisasi berbasis tambang selain dapat mempercepat negeri besar ini menjadi negara industri maju juga dapat mengurangi kesenjangan antara Jawa dan Luar Jawa.
“Presiden menyampaikan meski tantangan global yang terus berkembang, kita optimis bisa menjadi negara maju dengan persatuan dan dukungan seluruh masyarakat,” ujarnya.
Sebelumnya Presiden Jokowi dalam pidato kenegaraan Jumat (16/8) mengatakan berbekal inovasi, kualitas SDM, dan penguasaan teknologi Indonesia bisa keluar dari kutukan sumber daya alam.
“Memang negara kita ini kaya Bauksit, batubara, kelapa sawit, ikan, dan masih banyak lagi. Tapi tidak cukup di situ. Kalau kita melakukan hilirisasi industri kita pasti bisa melompat lagi. Kita bangun industri pengolahan bauksit sehingga impor alumina tidak perlu dilakukan,” ujarnya. (Web Warouw)

