Kamis, 16 April 2026

Tepat ! Mendagri Tjahjo: Lawan Terorisme, Aktifkan Kembali Siskamling!

Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo (Ist)

JAKARTA- Penyerangan kepada aparat keamanan kepolisian sudah pada tahap yang memprihatinkan dan meningkatkan tahap waspada satu. Teror terhadap aparat keamanan harus dilawan tidak hanya oleh aparat kepolisian tapi oleh seluruh masyarakat. Untuk itu Siskamling warga setempat mencermati keadaan lingkungan harus segera diaktifkan kembali ditingkatan RT dan RW. Hal ini disampaikan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo kepada Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (1/7).

“Perlu langkah tegas Kapolri ke dalam untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan terpadu aparat kepolisian dengan meningkatkan berbagai upaya deteksi dini dan intelejen,” tegasnya.

Semua pihak menurutnya, termasuk jajaran Polri, TNI, BIN, elemen masyarakat harus bersama- sama melawan teror masyarakat dan teror kepada negara.

“Sebagai Mendagri kami minta jajaran Kemendagri khususnya jajaran Pemda propinsi, kabupaten dan kota untuk meningkatkan koordinasi bersama Forkompimda setempat dengan melibatkan bersama tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat setempat,” tegasnya.

Tjahjo Kumolo juga memerintahkan agar jajaran Satpol PP harus ikut mengamankan wilayah pusat keramaian dibawah koordinasi kepolisian setempat.

“Ditingkat RT/RW, Kelurahan dan Desa harus dimulai diaktifkan Siskamling warga setempat mencermati keadaan lingkungan kalau ditengarai ada gerak gerik yang mencurigakan di lapangan dengan melibatkan pengamanan polsek dan koramil setempat,” ujarnya.

Kemendagri menyatakan prihatin atas penyerangan terhadap aparat kepolisian yang diserang baik di Kampung Melayu Jakarta, Polda Medan dan di Masjid Mabes Polri, Jakarta.

“Kita yakin aparat Polri mampu membongkar siapa yang harus bertanggung jawab atas penyerangan-penyerangan tersebut,”  ujar Tjahjo Kumolo.

Menyembuhkan Kebencian

Sementara itu, Dr. I Nyoman Hariyasa Sanjaya dari Dokter Bhinneka Tunggal Ika (DBTI) di Bali mengatakan bahwa, fenomena radikalisme adalah fenomena sakit kemanusiaan.

“Manusia sehat tidak akan berprilaku abnormal seperti menyerang, melukai, membunuh diri sendiri dan orang lain,” ujarnya kepada Bergelora.com dari Denpasar, Sabtu (1/7).

Menurutnya para teroris adalah mereka yang sedang sakit. Pendekatannya bukan hanya pendekatan hukum dan keamanan semata.

“Mereka perlu disembuhkan dengan berbagai pendekatan dan intervensi medis,” tegasnya.

Para dokter menurutnya mesti melakukan pendekatan medis untuk membantu bangsa kita keluar dari sindroma radikalisme dan terorisme ini.

“Dan harus tetap didasari oleh landasan kasih dan pelayanan seperti sumpah dokter melayanani dengan profesional dan tulus,” jelasnya.

Maka dengan demikian menurutnya, para dokter akan mampu menyembuhkan pasien,–anak bangsa yang sedang sakit itu,” katanya.

Ia meyakini, dokter akan mampu kembali menyelamatkan bangsa dan negara ini. Dokter harus hadir untuk menyembuhkan bukan memusuhi apalagi ikut marah dan membenci.

“Dengan dendam permusuhan akan menyala dan terus terjadi tanpa henti. Namun dengan welas asih, maka kekejaman, kekerasan dan perang besar apapun akan terselesaikan dengan baik dan damai. Para dokter adalah para penyembuh yang cerdas, bijaksana, tulus dan penuh cinta kasih,” ujarnya.

Sebelumnya, terduga teroris yang menusuk dua anggota Brimob ketika salat Isya di Masjid Falatehan di seberang Mabes Polri tewas Jumat (30/6) malam ditembak tepat di kepalanya.

Pria tersebut tergeletak di jalanan dengan darah membasahi aspal. Pria tersebut mengenakan celana jins kemeja biru.

Kronologi Teror

Hanya berjarak 200 meter dari Markas Besar Polri, dua anggota polisi yang sedang menunaikan ibadah di Masjid Falatehan  ditusuk oleh seorang pria.

“Tiba-tiba kedengaran gaduh-gaduh dari dalam masjid. Ada yang teriak, ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar’. Jemaah dari dalam langsung kocar-kacir sambil teriak-teriak teroris,” kata seorang pengendara ojek online bernama Edo, Jumat malam.

Pada saat kejadian, Edo sedang nongkrong tepat di seberang Masjid Falatehan.

Beberapa saat kemudian, pelaku yang mengenakan kemeja berlengan pendek terlihat keluar masjid. Pelaju berjalan santai ke arah Terminal Blok M di kanan masjid.

“Dia tenang. Pas keluar dari masjid, kayak cari mangsa lain,” kata Edo.

Setelah pelaku berjalan ke arah terminal, seorang polisi dari dalam masjid keluar mengejarnya. Namun, pelaku malah mendekat dan menghampiri anggota yang siap menembaknya.

Dua tembakan ke udara dilepas untuk memperingatkan pelaku, tetapi pelaku tak mengindahkan.

Polisi pun menembak dada dan kepala korban. Tembakan itu tidak menghentikan langkah pelaku, tetapi akhirnya ia jatuh juga ke aspal sekitar 50 meter dari pagar Terminal Blok M lajur Transjakarta.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 19.40 WIB saat sekitar 20 anggota korps brimob selesai menunaikan shalat Isya berjamaah.

“Selesai melakukan salam, tiba-tiba seorang orang tak dikenal melakukan penyerangan dengan pisau ke arah anggota,” kata Setyo di lokasi.

Korban serangan itu adalah anggota Resimen 1 Gegana AKP Dede Suhatmi dan anggota Resimen 3 Pelopor Briptu M Syaiful Bakhtiar.

Keduanya ditusuk menggunakan sebilah sangkur merek Cobra di pipi kanan. Sebelum menusuk, pelaku diketahui ikut shalat. Saat menyerang ia juga meneriakkan takbir sambil mengibaskan sangkurnya.

Anggota polisi yang terluka sempat dibawa ke Rumah Sakit Pusat Pertamina, sebelum dipindah ke RS Polri Kramat Jati. Polisi menemukan sebuah tas yang diduga milik korban. Tas tersebut diledakkan di depan masjid sekitar pukul 23.42 WIB oleh tim Gegana. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles