DONGGALA- Petani di Kabupaten Donggala mengalami kekurangan alat pengolahan lahan pertanian. Alat pertanian seperti hand tractor tidak bisa lagi dioperasikan kerena rusak ditimpa bangunan akibat bencana gempa dan tsunami pada 28 September lalu.
Moh. Rum Yojolome Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Tanjung Padang mengatakan saat ini petani masih berhitung untuk mengolah sawah karena terkendala dengan tidak adanya hand tractor yang bisa digunakan. Hand tractor yang ada sudah rusak. Tidak bisa digunakan karena rusak.
Hal tersebut diungkapkan Ketua Gapoktan ini di sela-sela Reses Muhammad Masykur, Anggota DPRD Sulteng di Desa Tanjung Padang (11/11). Dalam penjelasannya, Mohamad Rum mengatakan mengenai hambatan yang dialami petani setelah bencana gempa dan tsunami.
“Secara umum itu hambatan utama petani di Kecamatan Sirenja. Sehingga keinginan untuk kembali turun ke sawah masih menunggu respon dari pemerintah daerah. Harapannya bisa segera disahuti,” sebut Rum.
Mengenai hal tersebut Pemerintah Daerah Kabupaten Donggala diharapkan dapat segera menyahuti desakan petani. Jangan sampai kesediaan petani untuk bangkit keluar dari situasi duka bencana selangkah lebih maju dibanding kesiapan Pemerintah Daerah menjalankan program pemulihan secara bertahap.
“Jika demikian maka hal seperti itu akan memperlambat daerah ini bangkit. Terutama di soal tahapan mendorong tumbuhnya aktifitas ekonomi warga. Ini yang harus disegerakan, sudah harus didorong mulai ada proses transaksi di pedesaan,” katanya.
Terkait bantuan alat mesin pertanian (Alsintan), Masykur mendesak Pemda, melalui Dinas terkait untuk segera melakukan percepatan realisasi pelaksanan program. Hal ini demi kepentingan rakyat yang menjadi korban bencana alam.
Selain itu, Pasca bencana gempa dan tsunami, sejumlah nelayan di Kabupaten Donggala juga mendesak pemerintah daerah segera mengupayakan program pemulihan terhadap nelayan. Khususnya bagi mereka yang kini tidak lagi memiliki alat tangkap.
Kondisi seperti itu merata di hampir seluruh wilayah kecamatan yang porak poranda disapu stunami. Seperti di wilayah pesisir Kacamatan Tanantovea, Sindue, Sindue Tobata, Sindue Tombusabora, Sirenja dan Banawa serta di beberapa wilayah lainnya.
Kepada Bergelora.com dilaporkan, Muhammad Masykur Anggota DPRD Sulteng saat ditemui di sela-sela kunjungan Reses di Kacamatan Sirenja (11/11), mengatakan dalam kondisi seperti ini mestinya sedapat mungkin pemerintah daerah bergerak cepat. Hal yang urgen segera dipastikan adalah penguatan data. Data menjadi sesuatu yang wajib dipastikan keakuratannya oleh Pemerintah Daerah baik Kabupaten Donggala maupun Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah.
“Nelayan kita saat ini butuh difasilitasi alat tangkap agar dapat memiliki sumber penghasilan dan secara perlahan menata kehidupan baru. Sebab, rumah hancur dan kini hidup di tenda pengungsian,” katanya.
Abdullah salah satu nelayan Desa Lero menuturkan bagaimana kondisinya. Akibat gempa dan tsunami rumah dan alat tangkap yang dimilikinya hilang tanpa bekas. Tidak ada lagi yang tersisa.
“Kini saya dan keluarga harus memulai dari nol lagi. Harus bertahap memang. Tidak bisa tidak mesti dilalui. Tinggal kuncinya ada di pemerintah daerah kita. Jika ditanya apakah kami sudah siap bekerja dan kembali melaut, kami jawab iya karena mau sampai kapan kami begini,” kata Dullah.
Bagi Dullah bencana alam 28 September menyisakan banyak cerita duka selamat dari terjangan tsunami dengan hanya baju di badan. Bersama keluarga kini hidup di tenda pengungsian Lapangan Sanggola, dusun 01 Pompaya, Desa Lero.
Hal yang sama dituturkan Aspar, nelayan dari Desa Tanjung Padang Kecamatan Sirenja.
“Jangankan rumah, perahu, mesin katinting serta perlengkapan alat tangkapnya tidak terselamatkan, Syukurlah alhamdulilah kami masih selamat dari bencana kemarin,” jelasnya.
Pemerintah Daerah diminta gerak cepat fokus kerja pemulihan ekonomi warga korban. Hal demikian dimaksudkan agar dapat menjadikan ekonomi warga mulai tumbuh kembali. Karena perputaran ekomomi di Kota Palu jelas tidak lepas dari berjalannya putaran aktifitas ekonomi di pedesaan.
“Jangan hanya melihat geliat perputaran ekonomi di perkotaan saja dengan adanya aktifitas toko-toko pakaian dan alat eletronik sehingga bisa dikatakan bahwa semua sudah membaik. Tetapi mari lihat dan perhatikan aktifitas ekonomi di pedesaan yakni di Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala. Semua menjadi tanggung jawab kita bersama untuk bersama-sama saling menopang memulihkan roda perekonomian di daerah ini,” katanya. (Lia Somba)

