Oleh: Prof Tjandra Yoga Aditama
Penulis adalah mntan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, sekarang bertugas di WHO South East Asia Regional Office berkedudukan di New Delhi. Bergelora.com memuat kiriman tulisan dari New Delhi ini (Redaksi)
NEW DELHI- Puasa di New Delhi tahun 2017 ini berlangsung pada puncaknya musim panas, suhu beberapa hari yang lalu sampai 48’ C, sangat menyengat, panas banget. Waktu puasa juga sedikit lebih panjang daripada di tanah air, Subuh jam 3.51 dan Maghrib jam 19.25. Jadi, puanaas dan luamaa.
Tentu juga “suasana puasa” tidaklah terlalu terasa. Dalam hal ini saya ‘’sedikit beruntung’’ karena didekat rumah saya ada masjid sehingga kadang-kadang masih terdengad adzan, tapi di kantor WHO tempat saya bekerja (dan juga sebagian besar kota New Delhi) tidak kedengaran adzan sama sekali. Di kantor dan tempat2 umum juga tentunya jarang sekali orang berpuasa. Tahun ini bersyukur KBRI di New Delhi menyelenggarakan acara buka bersama setiap Saptu malam, yang di Saptu pertama Ramadhan di gabungkan dengan acara Pekan Pancasila. Jadi sekalian pemahaman Pancasila, sekalian silaturahmi antar WNI dan sekalian buka puasa bersama, menu Indonesia pula, Alhamdullilah.
Pada waktu awal puasa saya ke Jakarta dan kembali ke India dengan ‘bekal’ yang cukup. Saya bawa 5 kantong besar dendeng balado dan 5 kantong balado teri kacang (masing2 cukup untuk lauk 4-5 hari), sementara di freezer saya di New Delhi masih ada 5 kantong rendang yang dua bulan lalu saya bawa dari Jakarta. Jadi walau ‘BuLok’ (bujang lokal) dan tidak bisa masak tapi setiap kali buka puasa dan sahur saya tinggal keluarkan saja rendang, balado dan teri kacang, masukkan microwave dan serasa buka puasa di rumah saya Cilandak.
Selain itu, sambil buka puasa maka saya biasanya Face Time dengan rumah saya di Jakarta, jadi sambil makan di New Delhi bisa sambil sekalian ngobrol dengan keluarga di rumah dan lihat cucu merangkak sekeliling rumah di Jakarta. Khusus untuk minumnya maka di awal puasa saya bawa 50 kantong kecil2 es buah, satu kantong untuk satu gelas, jadi satu di buka puasa dan satu di sahur, Alhamdullillah. Saya memang sengaja berbekal lengkap, soalnya kalau harus buka puasa pakai makanan India yang macam Daal, atau Tali, atau ‘keras’nya bumbu Kare maka rasanya agak ‘berat’ juga….
Di suatu hari Minggu saya di rumah buka bersama dengan para mahasiswa Indonesia (anggota PPI India) yang sedang belajar di Aligarh University (sekitar 3 jam dari New Delhi) dan Jawarharlal Nehru University (JNU), serta dokter2 spesialis yang sedang belajar keahlian tertentu (katakanlah semacam superspesialis) di New Delhi.
Para dokter ini sedang belajar kardio intervensi (seperti kateterisasi jantung dll) dan neurologi intervensi yang belajar tindakan diagnosis pengobatan gangguan syaraf melalui alat dan zat yang dimasukkan ke pembuluh darah. Dokter2 yang sekarang sedang belajar kebetulan dari Universitas Padjadjaran, Universitas Udayana dan Universitas Sam Ratulangi, sementara yang baru saja kembali ke tanah air adalah dokter spesialis bedah syaraf yang mengambil keahlian bedah epilepsi di India, jadi penyakit ayan memang bisa ditangani dengan pembedahan sekarang ini. Ikut bergabung juga bukber di rumah saya staf yang bekerja di WHO (Prof Akhir Yani mantan Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia-PPNI) dan teman Indonesia yang jadi staf ADB India serta teman SMA anak saya yang sekarang jadi diplomat KBRI.
Diskusi “ngabuburit” derngan para mahasiswa menarik juga. Di India biaya kuliah mereka Rp 13 juta sampai selesai (3 tahun) jadi sarjana (S 1), di bayar di awal masuk dan lalu tidak bayar apa-apa lagi, dan biaya hidup sekitar Rp 2 juta sebulan. Jadi memang jatuhnya lebih murah dari di Indonesia. Mahasiswa Indonesia ini mengambil berbagai jurusan, ada yang politik, hubungan internasional, psikologi, linguistik, dll. Mahasiswa kita ini juga pada semangat untuk melanjutkan pendidikannya di India ini untuk ambil Master dan Doktor. Untuk Master maka uang kuliahnya USD 150/semester, juga murah ya. Kebetulan pada musim panas ini mahasiswa libur, jadi mereka bergabung ke New Delhi untuk jadi panitia Taraweh di masjid KBRI.
Selain di KBRI maka saya pernah juga sholat Taraweh di salah satu rumah warga tetangga saya. Totalnya 20 rakaat (plus 3 rakaat Witir), dan 1 malam 1 juz, lumayan panjang. Rumah tetangga saya (dan khabarnya juga Masjid di Delhi) biasa mengundang Hafiz Quran untuk jadi Imam sholat Taraweh, bacaannya bagus sekali, dan memang akan menyelesaikan 30 juz selama Ramadhan. Sholat Witirnya agak sedikit berbeda dengan yang saya biasa ikuti di Jakarta, karena di New Delhi ini di akhir rakaat ke dua maka kita duduk untuk tahiyat awal, baru dilanjutkan rakaat ke tiga. Doa qunut juga dibaca pada Witir sejak awal Ramadhan, sementara Masjid di Indonesia biasanya tidak membaca qunut atau membacanya pada 10 hari terakhir Ramadhan.

